Masalah Majalengka Hanya Soal "Kemasan"


RAKYATCIREBON.CO.ID- Pengemasan yang baik dan terlatih, menjadi kendala yang terabaikan di wilayah Kabupaten Majalengka. Padahal, dari sisi potensi produk usaha kecil dan menengah, maupun kerajinan kreatifitas tangan lainnya Kabupaten majalengka, dinilai telah cukup banyak. Oleh karenanya, perlu manajemen khusus untuk soal pengemasan barang dan produk kreatifitas lainnya.

Hal ini ditegaskan Calon Gubernur Jawa Barat, H Ridwan Kamil pada saat berkunjung ke wilayah Majalengka. Ia mengatakan Kota Angin ini punya banyak potensi selain wisata, yakni banyak produktifitas kerajinan tangan dan juga produk UMKM.

"Jadi kedepan, yang harus dimenej bukan soal usahanya. Akan tetapi soal packiging atau pengemasannnya masih kurang. Kekurangan ini yang harus ditutupi demi kemajuan peningkatan ekonomi masyarakat Majalengka," ungkapnya.

Pria yang akrab dengan panggilan Kang Emil, menambahkan itu semua telah ia ujicobakan di wilayah kota Bandung. Ataupun dirinya yang mencoba berdagang dengan pihak luar. Maka yang diutamakan adalah soal pengemasan barang atau produk yang ditatar dengan baik dan cantik.

"Soal pengemasan ini tidak main-main. Saya pernah mencoba produk Moci, harganya 200 ribu. Padahal isi moci-nya itu hanya 6 biji. Tetapi karena kemasannya yang bagus. Orang berani bayar mahal," ungkapnya.

‎Emil menjelaskan termasuk soal potensi wisata, perlu dikemas dengan baik. Tujuannya supaya lebih bisa mendatangkan wisatawan asing maupun wisatawan daerah lain yang berkunjung ke Majalengka. Paralayang di Bukit Panten itu menjadi magnet, namun masih kekurangan sejumlah fasilitas.

"Tetapi itu semua perlu proses dan waktu. Saya lihat potensinya benar-benar luar biasa. Ada beberapa kekurangan dan itu perlu diadakan sejumlah fasilitas lainnya. Nanti di sana, sejumlah produk kemasan lokal asli Majalengka bisa dipajang, dan bila kemasannya baik, maka pengunjung bisa membeli dengan harga berapapun, karena mereka melihat kemasannya," ungkapnya.

Kang Emil juga ikut berkomentar terkait dampak yang ditimbulkan dari adanya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati.

Nantinya akan ada alih fungsi lahan di sekitar kecamatan Kertajati akibat hadirnya pembangunan tersebut. Namun, Ridwan menambahkan bagi para petani di sekitar bandara tidak perlu risau dan takut kehilangan pekerjaan.
Sebab jika nanti terpilih, dirinya sudah mempersiapkan produk-produk berupa aturan yang akan melindungi kesejahteraan petani baik dari segi pekerjaan maupun peralihan mata pencaharian.

"Kami tidak serta merta merubah alih fungsi lahan di kawasan tersebut. Ketika tidak sesuai dengan Tata ruang, kami akan melarangnya. Saya sudah buktikan, di Bandung ada sekitar 102 pendirian apartemen maupun pusat perbelanjaan yang tidak saya setujui dan digagalkan," ujarnya, Senin (19/3).

Selain itu, setiap kebijakan yang dibuat pemprov nantinya harus terintegrasi dengan kebijakan yang dibuat oleh pemkab. Permasalahan muncul ketika bupati terpilih tidak sejalan dengan kebijakan yang dibuat oleh gubernur. Dengan kata lain partai pengusung keduanya berbeda.

Kang Emil menyebut cara yang ampuh untuk mengatasi tidak adanya koordinasi antara kepala daerah adalah dengan memanfaatkan dana bantuan Gubernur.

"Kalau Bupati Walikotanya nurut ditambahin angka bantuan Gubernurnya, kalau tidak nurut ya kita potong di tahun berikutnya. Jadi semacam ada reward dan punishment," pungkasnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga berencana membuat grup WhatsApp yang diisi para bupati dan walikota di Jawa Barat.

Komunikasi melalui jejaring sosial ini disebutnya mampu memangkas jarak komunikasi dari kepala daerah dan pemimpin di provinsi yang terputus akibat mekanisme desentralisasi daerah.

Ridwan mengatakan, selama ini, komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat hanya sebatas pertemuan formal.

Menurut UU 23 Tahun 2014 tentang Desentralisasi, walikota dan bupati daerah bisa membuat keputusan 70 persen. Kuncinya membangun, jangan hanya formal. Kami selama ini jarang berkomunikasi dengan provinsi. Hanya ada undangan formal, bertemu di panggung formal.

"Kami akan bikin WA group saling menyapa saling menanyakan. Intinya cara komunikasi itu tidak selalu harus formal tapi cair dan jika terpilih, cara itu akan kami bangun di Jabar," tuturnya.

Ridwan Kamil menyebut jika kepemimpinan tak harus ditumbuhkan dengan cara yang formal saja. "Bertemu hanya di pangung-panggung yang sifatnya formal, perlu ada inovasi baru," ujarnya.(hrd/hsn) 

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Masalah Majalengka Hanya Soal "Kemasan""

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...