Meme Setnov sebagai Kritik Satire

Oleh: Sugeng Winarno

POLISI menangkap dan menetapkan Dyan Kemala Arrizzqi, 29, sebagai tersangka dugaan pencemaran nama baik dan fitnah terhadap Ketua DPR Setya Novanto (Setnov). Dyan diduga menyebarkan meme Setnov saat sakit.
penyebar meme setya novanto dipolisikan
Sugeng Winarno. Image by jawapos.com
Salah satu meme yang disebar Dyan melalui akun Instagram adalah foto Setnov yang dibuat mirip karakter Bane dalam film The Dark Knight Rises yang menggunakan masker. 

Penangkapan kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu dinilai banyak kalangan dapat mengancam kebebasan berekspresi (Jawa Pos, 6/11).

Fenomena maraknya gambar meme di internet membuat jagat dunia maya jadi berwarna. Hampir setiap hari para pengguna internet (netizen) bisa menjumpai kreasi baru meme. 

Tidak jarang meme muncul sebagai respons atas beragam kejadian terkini yang sedang hangat dibicarakan. 

Objek gambar meme biasanya para figur publik dan artis terkenal, termasuk para politikus. Banyak netizen yang membuat meme sebagai bentuk kritik satire politik kepada para pemegang kekuasaan negeri ini.

SARANA KRITIK SATIRE

Kemunculan meme terkait dengan merebaknya penggunaan media sosial semacam Facebook, Twitter, Path, dan Instagram. 

Meme muncul sebagai salah satu cara mengkritik model baru. Meme dipilih banyak orang sebagai sarana penyampaian kritik yang dirasa lebih halus. 

Unsur humor yang terkandung di dalam gambar-gambar meme sepertinya bisa membungkus pesan kritik yang terkadang pedas, tetapi yang dikritik bisa tetap tersenyum. 

Meme sebagai media kritik bisa disejajarkan layaknya kartun editorial atau karikatur politik di surat kabar.

Menurut Nugraha (2015), meme adalah gambar atau foto yang diberi teks atau bahasa sehingga menghasilkan makna baru. Istilah meme berasal dari bahasa Yunani ”mimema” yang berarti sesuatu yang ditiru. 

Gambar dan tulisan yang ada dalam meme bersifat lucu sehingga membuat orang tersenyum. Walaupun demikian, di dalam meme itu terdapat maksud tertentu yang hendak disampaikan pembuatnya. Melalui meme, si pembuat bisa mengusung maksud menyindir, mengejek, atau mengkritik.

Yang membedakan kritik yang disampaikan lewat meme dengan kritik model lain adalah dalam meme terkandung muatan humor. 

James Dananjaja (1989) mengatakan bahwa di dalam masyarakat, humor –baik yang bersifat erotis maupun protes sosial– berfungsi sebagai pelipur lara. Sebab, humor dapat menyalurkan ketegangan batin yang menyangkut kepentingan norma masyarakat yang dapat dikendurkan dengan tawa.

HUMOR DALAM MEME

Humor adalah salah satu bentuk permainan yang digemari banyak orang karena pada dasarnya manusia adalah homo ludens, makhluk yang gemar bermain. 

Humor juga mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia, yakni sebagai sarana hiburan dan pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia. Tawa akibat humor dapat memelihara keseimbangan jiwa dan kesatuan sosial masyarakat.

Humor memang bisa secara efektif digunakan dalam beragam konteks. Bila digunakan secara tepat, humor juga bisa menjadi solusi atas sebuah permasalahan yang pelik, penghilang ketegangan, media pencair perseteruan, juga yang tidak kalah penting: humor bisa berperan sebagai media kritik sosial politik. 

Banyak kritik politik pedas yang terlontar, tapi tidak menimbulkan ketersinggungan pada orang yang dikritik karena balutan humor di dalamnya.

Salah satu kelebihan kritik yang dilakukan dengan media humor adalah cara penyampaiannya yang satire. Satire adalah gaya bahasa untuk menyatakan sindiran kepada seseorang atau suatu keadaan. Bahasa satire itulah yang menjadikan kritik tajam tidak terasa pedas karena unsur komedi yang ada di dalamnya. 

Melalui gambar meme, seseorang yang terkena kritik bisa menertawakan dirinya sendiri dan lingkungan masyarakat. Para pembuat meme juga bisa mewakili kaum tertindas guna memprotes para politikus yang menyelewengkan amanah rakyatnya.

Tidak sedikit meme di medsos yang sering bermuatan kritik lucu yang berbau politik. Banyak politikus dan pejabat negara yang telah menjadi objek gambar meme ini. Presiden Jokowi juga beberapa kali wajahnya dibuat meme. 

Meme Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, misalnya, juga dengan mudah kita temukan di internet. Para artis dan selebriti juga tidak luput jadi objek meme yang menghiasi medsos.

Beragam bentuk kritik satire banyak juga kita jumpai di media cetak yang menampilkan karikatur, juga kolom kecil yang berisi komentar-komentar kritik tentang ketidakberesan di masyarakat. Dalam panggung hiburan kesenian-kesenian tradisional, kritik satire juga sering diusung. 

Dulu, ketika masa penjajahan Jepang, salah seorang seniman ludruk di Jawa Timur ditembak Jepang gara-gara kritik dalam kidungannya. Adalah Cak Durasim yang waktu itu bagian dari syair kidungannya berbunyi ”Pegupon Omahe Doro, Melu Nippon Iku Sengsoro” yang berarti pagupon rumah burung dara, ikut Jepang membuat kehidupan jadi sengsara.

Humor dalam meme bisa lebih mudah diterima banyak orang; bisa masuk dalam beragam perbedaan etnis, suku, agama, ras, dan status sosial. Seperti halnya musik, humor adalah bahasa yang universal, bisa menjadi media interaksi di kalangan masyarakat. 

Melalui humor, orang bisa menertawakan diri sendiri, menyindir orang lain, menyentil para penguasa yang korup, mengolok para figur publik yang tidak bisa lagi diteladani, dan menertawakan para wakil rakyat yang berperilaku menyimpang –yang terkadang mengundang tawa yang luar biasa.

Humor dalam beragam bentuknya muncul sebagai bentuk pemberontakan akan ketidakadilan yang sedang terjadi. Seorang komedian dunia Phyllis Diller menyatakan, ”If everything goes well, you have nothing funny!” Kemunculan humor dalam meme bisa digunakan sebagai tolok ukur ketidakberesan yang sedang terjadi dalam masyarakat. 

Meme bisa hadir sebagai bentuk media kritik, perlawanan, dan katarsis masyarakat yang sedang tertindas serta mendapat perlakuan yang tidak adil.

Melihat meme sebenarnya menyaksikan potret yang sebenarnya sedang terjadi di masyarakat. Kalau yang muncul banyak kritik politik, itu bisa dimaknai memang kehidupan politik kita sedang berada dalam kondisi yang jauh dari ideal. 

Kehadiran meme bisa dipakai sebagai media kritik alternatif yang konstruktif. Kebuntuan saluran-saluran kritik yang ada bisa mencair dengan munculnya meme. 

Diperlukan kedewasaan orang yang dikritik, termasuk yang mengkritik, agar keseimbangan bisa dicapai. (*) Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, Ketua Umum Aspikom Jatim

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Meme Setnov sebagai Kritik Satire"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...