Koalisi (harapan) Umat, Catatan Kecil untuk Gerindra, PKS dan PAN Kota Cirebon

Oleh : Ang Basir

SEIRING mendekatnya pemilihan  Walikota Cirebon 2018, semakin panas suhu politik di kota wali ini. Beragam manuver  politik dilakukan oleh para  politisi dari bakal calon walikota sampai yang mengatas namakan partai politik. 
menimbang kekuatan koalisi umat kota cirebon
Ang Basir. Foto: Ist./Rakyat Cirebon
Memang inilah kelumrahan dalam pesta demokrasi, toh hanya even lima tahunan. Ada pameo lama yang nampaknya masih relevan sampai sekarang, dalam politik tidak ada  lawan abadi, pun juga tidak ada kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan. Ya..itulah politik, sebagai sebuah seni untuk menguasai, mempengaruhi bahkan mengkooptasi.

Beragam analisa, manuver dan statemen seolah menjadi makanan keseharian yang tersuguhkan untuk publik. Bagi yang tidak terbias dengan dunia politik, akan merasakamn bahwa politik adalah sesuatu yang rumit, gampang berubah dan inkonsisten. 

Tapi itulah realita di dalam politik, selagi ada deal,maka lanjutkan tapi bila sudah tidak ada kepentingan maka bubar tanpa kesan. Bagi politisi yang sudah malang melintang dengan dunia ini, maka menanggapi bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. 

Fenomena terkini yang sedang “hot” bagi yang bergelut dengan dunia politik local Cirebon, adalah mengemukanya poros koalisi umat. Karena Syarat untuk mengajukan pasangan calon walikota harus di dukung oleh minimal 7 kursi di parlemen, maka hanya PDIP yang bisa leluasa melakukannya.

Sementara partai politik lain harus saling bergandengan bila ingin mengajukan pasangan calon walikota untuk bertarung di pilkada tahun depan. Setiap partai politik pasti menginginkan kemenangan saat mengusung pasangan calon. 

Oleh karenanya, dipilihlah figure yang tidak hanya mumpuni secara teknis dalam kapasitas dan kapabilitas untuk menjadi walikota, tetapi juga yang mampu mendongkrak suara. Demi kepentingan ini, tidak jarang kita saksikan pasangan calon walikota merupakan perpaduan antara kapasitas, kapabilitas dan hasil negosiasi.

Terkait poros kualisi umat, bisa kita analisa dengan menggunakan beragam pisau analisis. Yang paling kentara adalah, mereka (Gerindra, PKS dan PAN) adalah ex komponen yang mendukung KCM, yang inheren mendukung Petahana. Seiring dinamika yang ada di internal KCM maka ketiga partai ini menarik diri dan kemudian mendeklarasikan poros baru yang mengambil title Kualisi Umat. 

Analisa yang juga bisa jadi memiliki nilai kebenaran adalah bahwa koalisi ini merupakan benang merah dari DPP masing masing partai tersebut. Mereka telah berhasil memenangkan pertarungan pilkada Jakarta yang fenomenal. 

Tak disangsikan bahwa kemenangan mereka di pilkada Jakarta juga disumbang secara signifikan oleh aksi 212. Benang merah itu pula yang nampaknya merambah Cirebon, sehingga ketiga partai yang juga supporter aksi 212 ini ingin mengambil momentum serupa Jakarta. 

Bila di Jakarta sentimen anti Ahok yang mengemuka, maka spirit Cirebon yang sampai hari ini belum ada bacalon dari kalangan non muslim, maka isu keumatan yang mereka usung.Yang paling berkepentingan dengan keinginan menguatnya spirit kota wali adalah umat Islam. 

Tak bisa disangkal Umat islam adalah pemegang saham terbanyak dari kota Cirebon. Sehingga tidak berlebihan bila umat islam sangat berkepentingan dengan jabatan walikota dalam kaitannya keberpihakan walikota untuk kemajuan umat Islam itu sendiri.

Sudah saatnya umat muslim merasakan nuansa kota wali dalam kehidupan nyata, tidak hanya slogan yang jauh dari realita. Banyak “PR” yang harus diselesaikan walikota mendatang, khususnya bila walikota mendatang benar di emban amanahnya oleh bacalon yang di usung oleh poros koalisi umat. 

Diantara yang paling krusial adalah mendekatkan umat islam kepada ajaran syariat. Suka atau tidak saat ini tidak sedikit dari umat islam yang tidak paham terhadap syariatnya. Seringkali ketidaktahuan umat muslim terhadap syariatnya ada juga yang disebabkan oleh pengaruh status social secara struktural, sebagaimana kemiskinan struktural.

Tidak berlebihan nampaknya bila poros koalisi umat, lebih tepat bila dijabarkan dengan rigid sebagai poros partai politik harapan umat. Dengan kata lain, umat islam begitu berharap ada perubahan yang signifikan dalam tata kota, tata social dan tata birokrasi, yang tentunya kearah lebih baik dengan spirit kota wali tersebut. 

Karena adalah sebuah utopi bila berharap perubahan yang fundamental di balaikota jika amanah kepemimpinan tidak dipegang oleh figur yang memahami spirit kota wali dari sudut pandang layaknya kepemimpinan Sunan Gunung Jati yang begitu peduli dengan kemiskinan dan dakwah.

Kemiskinan berarti tidak adanya kesejahteraan dalam sebuah entitas. Dalam konteks kota Cirebon, maka umat muslim lah yang mayoritas mengalami kondisi miskin tersebut. Bagaimana akan terentaskan kemiskinan, apabila penguasa tidak berpihak pada mereka. 

Dalam skala yang lebih luas (nasional), terbukti bahwa kemiskinan di Indonesia yang paling dominan disebabkan oleh kemiskinan structural. Pola pembangunan yang bottom Up sering kali dituding sebagai penyebab utama kemiskinan structural ini. 

Dan gaya kepimpinan tradisional hedonis akan semakin melengkapi keterpurukan masyarakat miskin. Disinilah saatnya rakyat menyadari bahwa “kueh” pembangunan yang mereka nikmati hanya sebagian kecil dari uang mereka sendiri yang di salurkan melalui APBN / APBD dan sejenisnya.

Setali tiga uang dalam hal dakwah. Sebagai kota yang bangga dan di banggakan sebagai kota wali, apa yang sampai hari ini kita bisa banggakan? Bukankah hanya slogan yang mampu kita banggakan. Sebuah kebanggan semu, sebuah kebanggaan masa silam yang tak mampu diwujudkan hari ini dalam realitas masyarakat Cirebon. 

Dengan sedemikian banyak kekurang berhasilan Cirebon sebagai sebuah entitas, maka yang paling bertanggungjawab untuk menuntaskan dan kemudian mengambil solusi paling solutif adalah sang walikota. Walikota yang diusung oleh kekuatan yang berakar dari umat Islam, niscaya akan disupport oleh konstituen secara maksimal. 

Karena rakyat benar benar menaruh harapan kepadanya. Harapan yang ingin diwujudkan, harapan yang sekian lama tidak mereka rasakan, bukan sekedar harapan palsu yang pada akhir jabatan sang pejabat kemudian rakyat berkata harapan nan sirna karena   ternyata hanya di PHP semata. Wallahu a`lam. (*) Penulis adalah warga Cirebon

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Koalisi (harapan) Umat, Catatan Kecil untuk Gerindra, PKS dan PAN Kota Cirebon"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...