Santri Dituntut Kuasai Teknologi Informasi

LEUWIMUNDING - Ribuan warga Nahdliyin tumpah ruah di lapangan alun-alun kecamatan Leuwimunding sejak pukul 7.00 hingga pukul 10.00 WIB. 
warga majalengka peringati hari santri di leuwimunding
Warga Majalengka peringati hari santri di Leuwimunding. Foto: Herik/Rakyat Cirebon
Lautan manusia dengan dominasi warna hijau itu rata-rata datang dengan rombongan dari pesantren se-Kabupaten Majalengka. Peringatan Hari Santri Nasional ini adalah wujud pengakuan sekaligus penghargaan kepada para santri. 

Ketua PCNU Kabupaten Majalengka, KH Harun Bajuri mengatakan, sesuai amanat ketua PBNU, HSN merupakan kado terindah. Sekaligus merupakan pengakuan dan penghargaan kepada para santri. Pihaknya mengakui bahwa sejarah kemerdekaan republik Indonesia dulu, para santri dan ulama jelas-jelas terlibat dalam perjuangan tersebut. 

"Kiprah dan eksistensi para santri bukan saja saat ini, tetapi dulu dan masa depan harus juga tetap eksis. HSN ini merupakan pengakuan sekaligus penghargaan yang sangat tinggi kepada para santri," ungkapnya, di hadapan ribuan warga saat memimpin apel kebangsaan, Minggu (22/10). 

Menurutnya, santri yang dalam sejarahnya terlibat langsung dalam kemerdekaan Indonesia, diharapkan harus selalu meresolusi jihad yang difatwakan oleh hadratusyekh KH Hasyim Asyari. Dalam menghadapi masa depan, para santri juga diharapkan menguasai teknologi informasi.

"Para santri harus juga mahir dalam penggunaan teknologi. Jangan gaptek, pelajari terus. Ambil yang positifnya, buang yang negatifnya. Jangan terjerumus pada dampak negatifnya," ungkap pengasuh dari ponpes Tarbiyah Rajagaluh ini. 

Ketua panitia acara HSN, H Cece Saepudin yang juga wakil ketua PCNU mengatakan, peringatan HSN tahun 2017 ini dipusatkan di kecamatan Leuwimunding. Sejumlah kegiatan diantaranya apel kebangsaan, parade hadroh, bakti sosial, bazar murah, ziarah kubra, shalawat nariyah dan tabligh akbar. 

"Semua giat itu mengandung unsur manfaat pengalaman dan pelajaran sosial budaya yang mengedukasi. Dan ribuan warga tumpah ruah di sini. Kami tentu saja sangat terharu, sekaligus senang," ungkapnya. 

Sementara itu, pengasuh ponpes Darul Maarif, Drs KH E Afief Al-Fian bertekad, untuk terus mencetak santri mandiri yang siap terjun kepada masyarakat. Selain itu motto yang kini diusung yakni tiga N yaitu‎ Nyantri, Nyakola dan Nyeni. 

"Kami ingin para santri memahami, bahwa sekolah sambil mondok juga bisa mendapatkan pengetahuan umum. Di pesantren bahkan kami berikan pengalaman langsung menimba ilmu agama Islam. Nyantri itu keren, makanya kita usung tiga N," ungkapnya. 

Hal senada diungkapkan Rois pengurus santri, Ade Tatan Nursabah. Menurutnya, momen peringatan HSN ini diisi dengan berbagai kegiatan menarik yang bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada para santri. Khusus untuk HSN ini pihaknya menggelar selama tiga hari.

"Kami usung santri mandiri dengan tujuan meneguhkan kembali komitmen kemandirian dalam diri setiap santri, untuk persiapan kelak terjun ke masyarakat," ungkapnya. 

Terpisah, Ketua dewan asatidz Aan Subarhan menuturkan, sejak dulu para santri memang telah dibekali pendidikan langsung untuk mandiri. 

Pria yang memang aktif di GP Ansor Majalengka ini mengatakan bahwasanya hakikat dan folosofi santri membentuk mental keagamaan, sekaligus diberikan persoalan dan problem solving atau solusi mengatasinya. 

"Ketika mondok itu, para santri langsung terjun dengan cara bertani, beternak. Itu juga merupakan pembelajaran langsung untuk kemandirian. Sekaligus sebagai bentuk aplikasi langsung dari pengetahuan internet," pungkasnya. (hrd)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Santri Dituntut Kuasai Teknologi Informasi"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...