PKB-PKS Majalengka Sulit Disatukan

DINAMIKA politik menjelang pilkada di Majalengka kian gaduh. Terutama setelah adanya rencana koalisi antara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). 
warga nu majalengka tidak mau pkb berkoalisi dengan pks
Pengurus DPC PKB dan PC NU Kabupaten Majalengka. Foto: Hasan/Rakyat Cirebon
Keluarga besar di Kota Angin tersebut menolak jika PKB, yang selama ini dikenal sebagai partainya warga Nahdiyin harus satu koalisi dengan PKS, yang berbeda faham ideologi. 

Tiba-tiba saja muncul rencana koalisi antara PKB dan PKS di Kabupaten Majalengka. Hal ini ramai setelah muncul wacana akan berpasangan Moch Ramdani bakal calon bupati dari PKB, dengan Deden Hardian Narayanto kader PKS yang diusung partainya untuk maju di Pilkada Majalengka 2018 mendatang.

Sebelumnya anggota Desk Pilkada DPP PKB, Drs H Rasta Wiguna sudah menyarankan agar PKB Majalengka menghindari satu koalisi dengan PKS dalam menghadapi Pilbup Majalengka 2018. 

Rasta meminta pengurus PKB Majalengka melakukan ikhtiar untuk membangun koalisi dengan partai lain. 

“DPP juga sedang berupaya membangun koalisi dengan partai lain, seperti Gerindra, Demokrat dan partai lainnya. Tapi tidak dengan PKS,” ujar Rasta. 

Rasta beralasan, PKB dengan PKS berbeda ideologi. Termasuk berbeda pandangan soal kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. “Kami tetap hindari, karena kemungkinan kecil akan dapat restu dari DPP. Warga NU juga tidakan mendukung,” tambah Rasta. 

Pendapat yang mirip sama juga disampaikan Sekretaris PC GP Ansor Kabupaten Majalengka, Ence Adam Mubarok. Bahkan, Ence mengaku kecewa muncul wacana Koalisi PKB -PKS. 

"Benar-benar kecewa dan tidak habis pikir, PKB yang notabene nya partai Nahdiyin, harus berkoalisi dengan PKS," ungkapya di sela-sela aktfitasnya di Kantor PC NU Majalengka, Senin (9/10).

Ia menambahkan walaupun Ansor bukan partai politik dan tidak punya hak mengatur kebijakan PKB, tapi pihaknya berharap PKB mau mendengar aspirasi warga N yang selama ini berjuang melawan kepentingan politik yang mencoba merusak NKRI.

"Apa artinya kalau akhirnya perjuangan kami anak muda NU selama ini kalau harus bekerjasama dengan PKS, yang sangat jelas berbeda jauh platform politiknya dengan PKB?," imbuh alumni PC PMII Majalengka ini dengan nada tinggi.

Ence menjelaskan perbedaan platform politik PKB dengan PKS khususnya terkait platform kebangsaan. Lihat saja bagaiman PKS dengan getol menolak Perpu Ormas dan juga tidak setuju ada konsep Islam Nusantara yang digagas oleh Ketua PB NU KH Said Aqil Siradj. 

"Apa PKB Majalengka mau nekat berkoalisi dengan PKS, kalau ternyata selama ini kader dan simpatisan PKS sering berseberangan dengan konsep Islam Nusantara. Ini sangat mencederai kami semua warga Nahdlyin," ungkapnya.

Salah seorang Pengurus Pagar Nusa Majalengka, Eman, mengaku tidak habis pikir kok bisa-bisanya PKB berencana koalisi dengan PKS, bahkan katanya akan membuat sejarah baru pertama di Indonesia. 

"Mau bunuh diri atau memang sudah tidak takut kualat ya sama kyai-kyai NU?" ujarnya sambil bercanda.

Pria asal Jatitujuh yang terkenal ceplas ceplosnya ini mengharapkan PKB mohon izin dan sharing dulu dengan Keluarga Besar NU, minimalnya kyai-kyai NU sebelum melakukan langkah koalisi.

"Kalau masih menganggap PKB partainya NU, seharunya PKB sowan ke kyai-kyai untuk melakukan langkah koalisi. Ni teu gaduh etika sareng teu sopan pisan," ungkapnya dengan nada guyon.

Sementara di internal partai, Wakil Sekretaris DPC PKB, Aan Subarhan mengungkapkan sah-sah saja dalam berpolitik memunculkan wacana koalisi PKB-PKS, apalagi terkait dengan situasi Pilkada saat ini. 

Hanya saja pihaknya menyayangkan wacana tersebut muncul tanpa berdasarkan rapat pleno. "Sah-sah saja wacana koalisi yang ada saat ini, tapi harus bersumber dari mekanisme yang benar," ungkapnya di sela-sela aktfitasnya di Pondok Pesantren Darul Ma'arif Cikedung Maja.

Aan menambahkan, persoalan koalisi dan pilkada merupakan kebijakan yang sangat strategis sehingga bagi PKB ini merupakan persoalan yang sangat serius. 

"Boleh lah berwacana apapun tentang koalisi tapi tolong hargai mekanisme yang sedang berjalan di PKB ini, terlebih sudah memunculkan satu nama. Padahal kami di PKB sudah menjaring tiga nama yaitu H Ramdani, H Taufan Ansyar dan H Maman Suherman," ungkap pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desk Pilkada PKB ini.

Apakah wacana tersebut akan direkomendasi DPP? Aan mengatakan,  wacana koalisi itu katanya jadi pertama kali di Indonesia, yang kemungkinannya akan banyak hambatannya.  

"Koalisi dengan siapapun dan rekomendasi kepada siapapun mungkin-mungkin saja terjadi. Semua masih dalam mekanisme menunggu keputusan dari DPP. Jadi tunggu saja, tapi karena ini dianggap tidak biasa rasanya akan banyak hambatan," jawab Staf Ahli Anggota DPR RI ini sambil tersenyum.

Di akhir perbincangan, Aan tetap berharap apapun keputusan DPP nanti, PKB Majalengka akan solid menggerakkan mesin partai untuk memenangkan Pilkada. Apalagi PKB merupakan partai kedua pemenang pemilu di Majalengka.  "Setiap keputusan DPP pasti mengikat semua kader partai untuk bergerak memenangkannya," pungkasnya. (hsn)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "PKB-PKS Majalengka Sulit Disatukan"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus