Menunggangi Sayap Anies Baswedan

Oleh: Masduri

BAHASA, kata, kalimat, dan paragraf dalam tulisan atau pidato lengkap sekalipun selalu tak lepas dari bias tafsir. Tulisan/pidato setelah lepas dan dilempar oleh penulis/penuturnya akan berbicara sendiri. 
mengurai pidato anis baswedan
Masduri. Image by Jawa Pos
Tak ada yang bisa membela dirinya. Kecuali keluasan pengetahuan dan kebijaksanaan diri pembaca dan pendengarnya yang bisa meluruskan maknanya. Keluasan pengetahuan kadang tak menjamin seseorang bisa mencerna makna bahasa dengan baik. 

Begitu pula, kebijaksanaan belum tentu bisa memastikan kebenaran dari maknanya, kecuali sebatas sikap husnudzan (prasangka baik). Keluasan pengetahuan serta kebijaksanaan merupakan jangkar berdaulatnya makna dan sikap positif. Keduanya bersinergi melahirkan sikap kritis yang etis.

Karena itu, tak perlu heran jika banyak orang yang berpengetahuan luas masih terjebak pada sayap-sayap bahasa Anies Baswedan ketika menyampaikan pidato pertamanya di Balai Kota Jakarta. Anies –seperti bahasa filsuf Ludwig Wittgenstein– sedang melakukan permainan bahasa (language game). Anies melempar bahasa ”pribumi” dan ”kolonialisme” untuk bermain bahasa dengan publik Jakarta serta Indonesia secara luas.

Bias tafsir tak terhindarkan. Bahasa Anies menjadi permainan yang dilempar ke sana-sini. Dikuliti, dibongkar, dijilati, diisap, disantap, dihabisi, sambil pada bagian-bagian lain mereka menunggangi sayap bahasa Anies seperti anak-anak yang sedang merayakan permainan dengan burung-burungan (burung mainan/bukan burung sesungguhnya).

Mereka menunggangi sayap bahasa Anies untuk beragam kepentingan. Dari dendam politik, sinisme terhadap figur, selebrasi diri, ataupun pembelaan terhadap sayap bahasa Anies yang sudah dipatah-patahkan tersebut.

Mungkin sudah takdirnya, bahasa ketika dilempar ke ruang publik harus menghadapi kenyataan yang kadang paradoksal. Maksud bahasa menjadi tidak nyata ketika kegandaan maknanya disebarluaskan oleh sinisme dan dendam. Apalagi, hal tersebut berkaitan dengan isu politik dan kekuasaan. 

Tentu pengendalian kebenaran oleh kekuasaan tak bisa dihindari. Michel Foucault telah mengingatkan peran kekuasaan dalam reproduksi kebenaran pengetahuan. Kuasa media yang besar, terutama yang dipegang elite politik, bisa menggiring opini publik pada batas-batas jurang terdalam pembusukan kebenaran.

RUANG KEBENARAN

Publik tak pernah tahu maksud sesungguhnya dari sayap bahasa yang dilempar Anies. Kecuali yang bersangkutan mau menjelaskan maksud dari bahasanya yang bersayap tersebut. Hanya, budaya publik kita yang kadang bebal sulit menerima kebenaran yang dijelaskan. Sinisme, dendam, dan kebencian menutup ruang-ruang kebenaran.

Karena itu, publik lebih suka bermain-main dengan sayap bahasa yang dilempar Anies. Keasyikan bermain kadang membuat lupa bahwa bahasa itu bisa mendua, ganda, dan memuaikan maknanya. Mereka terjebak pada fase pertama filsafat bahasa Wittgenstein tentang verifikasi empiris (empirical verification) pada kebenaran bahasa. 

Bahasa dinilai sebagai gambar (picture). Bahasa dimaknai seperti senyatanya fakta apa adanya (straightforward informations about facts), yang pada batas-batas tertentu faktanya ditarik pada penyinggungan etnis gubernur DKI sebelumnya, yakni Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sebagai keturunan Tionghoa. 

Sehingga ungkapan ”kolonialisme” yang harus dilawan orang ”pribumi” dipahami sebagai ujaran kebencian terhadap warga Jakarta yang bukan asli keturunan suku Indonesia.

Publik mungkin lupa bahwa Anies sendiri adalah keturunan Arab. Dengan demikian, kalau makna perlawanan orang ”pribumi” pada ”kolonialisme” dipahami seperti itu, Anies telah menampar diri sendiri. Sebab, dia juga bukan asli keturnan suku Indonesia.

Lalu, pertanyaannya, apakah mungkin seorang Anies melakukan kesalahan yang demikian fatal? Hingga harus menampar diri sendiri. Wittgenstein menghadirkan alternatif sekaligus kritik terhadap filsafat bahasanya yang pertama. 

Bahasa yang sama bila digunakan dalam konteks yang berbeda akan mengalami pluriformitas makna, yang mengharuskan pembaca/pendengar (penafsir) memiliki ketajaman analisis dalam melihat konteksnya. Bahasa, meski maknanya dalam kamus satu, pada language game menjadi beragam sebagai implikasi permainan penutur/penulis.

Ruang kebenaran dalam language game tidak bisa diukur. Batas-batasnya menjadi buram. Bahasa menjadi ganda. Artinya menjadi mendua. Maknanya menjadi memuai. Sebab, dalam language game, yang dipahami bukan makna dalam kamus yang diambil dari kesepakatan, yang oleh Plato disebut sebagai kesepakatan tentang kesamaan ide sebagai modal dasar bahasa. 

Makna language game diambil dari keluasan cakrawala berpikir dan pengetahuan yang dimiliki pembaca/pendengar. Lalu, kebijaksanaan diri menuntun pembaca/pendengar hadir sebagai penafsir yang baik. 

Sikap kritis dari kemampuan berpikir dan pengetahuannya mengungkap makna yang tampak dan di baliknya. Kesantunan dari kebijaksanaannya menghadirkan sikap husnudzan terhadap orang lain.

Anies bukan sembarang orang yang kemudian akan melempar bahasa tanpa mendalami maknanya. Publik paham cara Anies berorasi dan bahasa yang digunakan sering kali membuat pendengarnya terpukau. Pada 2008 majalah Foreign Policy menempatkan Anies dalam daftar 100 Intelektual Publik Dunia, sejajar dengan tokoh perdamaian Noam Chomsky.

Anies juga mendapatkan banyak penghargaan kelas dunia lainnya. Tentu kapasitas keilmuan Anies tidak diragukan. Keluasan pengetahuan dan modal kepemimpinannya memiliki pengaruh besar pada posisi dirinya sekarang sebagai gubernur DKI.

Lalu, apakah kita masih akan bepikir seorang Anies bakal menebar ujaran kebencian, sementara banyak tugas lain yang harus diselesaikan daripada sekadar meladeni bias tafsir akibat language game yang dilakukannya?

Itu pandangan saya. Anda boleh berbeda! Apalagi, Anies sudah menjelaskan, konteksnya adalah penjajahan di masa lalu. Sudah jelas dan benderang. Tidak ada lagi language game. (*)  Penulis adalah dosen filsafat pada Program Studi Akidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel, Surabaya

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Menunggangi Sayap Anies Baswedan"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus