Masyarakat Minta Bongkar Muat Batubara Ditutup

CIREBON – Debu batubara rupanya kian tak terkendali. Masyarakat sekitar pelabuhan terus mengeluhkan debu batubara yang kian mengganggu aktivitas masyarakat.
debu batubara pelabuhan cirebon kotori masjid
Jaring penangkal batubara di pelabuhan Cirebon. dok. Rakyat Cirebon
Sebaran debu pun sudah sampai pada RW 03 Pagogan Timur Kelurahan Panjunan Kecamatan Lemahwungkuk.

Ketua DKM Musala Alkhair Heri Gushaeri mengaku jika saat ini debu batubara cukup mengganggu para jamaah terutama pada siang hari dimana debu batubara membuat kotor lantai.

“Ya sekarang kalau siang debunya mulai banyak lagi mas. Jadi sebelum salat kita bersihkan dulu lantainya,” ujar Heri pada Rakcer.

Dia pun menyerahkan persoalan debu pada pemerintah Kota Cirebon agar segera diatasi. “Kalau kita pengennya tak ada debu (batubara), jadi tak mengganggu kami. Tindakannya ya kita serahkan pada pemerintah, masa kita yang terus kena debunya,” keluhnya.

Sebelumnya, Ketua Yayasan Santo Dominiko, Sr Maria Albertine OP menerangkan bahwa sejak tahun 2009 lalu ia mulai datang di yayasan tersebut, dampak dari aktifitas batu bara sudah terasa, dan sekitar dua minggu terakhir, debu terlihat semakin tebal bahkan bisa masuk ke ruangan tertutup sekalipun.

Selain merasakan debu yang berterbangan, berbarengan dengan itu pihak penghuni sekolah juga menghirup bau busuk seperti benda terbakar.

"Yang pasti dampaknya sangat kami rasakan, saya 24 jam tinggal disini. Anak-anak sudah mengurangi aktifitas diluar, selain itu setiap ruang kelas kami tutup full. Ini sangat serius tapi kami tidak tahu harus bagaimana," ungkap Maria kepada rakcer.

Mengenai dampak langsung terhadap kesehatan, lanjut dia, memang akibat dari debu batu bara ini akan dirasakan dalam jangka panjang, tidak spontan.

Untuk dampak saat ini, hanya gejala luar yang akan dirasakan, seperti radang tenggorokan, sesak nafas dan daya tubuh atau imun yang menurun, sehingga menyebabkan manusi mudah terkena penyakit.

"Dampaknya nanti akan terasa mas, jadi bukan sekarang, sedikit demi sedikit debu masuk ke paru-paru, dan ini lebih berbahaya dari asap rokok. Jadi jika dibiarkan ini sama saja dengan pembunuhan massal," lanjut Maria.

Mengenai alat pendeteksi debu yang diminta dipasang oleh pihaknya kepada PT Pelindo, Maria mengatakan bahwa memang hal tersebut dilakukan, akan tetapi hanya dilakukan dalam jangka waktu 3 bulan sekali, itu pun dipasang saat aktifitas bongkar muat batu bara sedang tidak berjalan.

"Kita selalu jadi titik pemasangan alat deteksi, tapi setelah dipasang kami selalu mendapatkan debu lebih banyak, dan saya tidak pernah diberi tahu hasilnya seperti apa," kata Maria. 

Sebelumnya, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Cirebon selaku penanggung jawab enggan selalu disalahkan. 

Pasalnya, KSOP secara maksimal telah melakukan upaya-upaya di lapangan, termasuk selalu memberikan teguran kepada PT Pelindo dan para pengusaha batu bara.

Akan tetapi, teguran tersebut seakan tidak dihiraukan sehingga debu tetap dikeluhkan dan lagi-lagi KSOP yang menjadi kambing hitam.

"Kita selama ini sudah berupaya maksimal, mulai dari pengawasan danlain-lain, sampai saya sendiri capek ngomong terus sama para pengusaha, tapi bukti di lapangannya tidak ada sedangkan masyarakat tahunya ya KSOP," ujar Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Pelabuhan KSOP Kelas II Cirebon, Viva Indriyani Ayu ST MSi saat diwawancarai wartawan koran ini, kemarin.

Dengan alat-alat yang ada, termasuk empat mesin semprot debu yang beroperasi di wilayah pelabuhan, KSOP dikatakan Viva tidak pernah berhenti melakukan penanganan-penanganan sesuai dengan tupoksinya di pelabuhan, walaupun terkadang ada hal teknis di lapangan yang tidak seharusnya dilakukan KSOP karena tidak menjadi tugasnya.

"Kita itu setiap hari muter terus mas, waktu kita kontrol memang selalu beres, tapi terakhir saya kontrol dengan GM Pelindo, saya katakan KSOP minta agar Pelindo serius," lanjut Viva.

Terlepas dari upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh KSOP, hingga saat ini, keseriusan Pelindo dan para pengusaha memang belum terlihat. 

Salahsatu contohnya seperti janji KSOP yang mengatakan akan menyewa mobil penyedot debu (Street Weaper) untuk menangani debu, akan tetapi hingga saat ini alat tersebut belum terlihat beroperasi.

Selain itu, Ketidakseriusan PT Pelindo dalam menangani debu juga terlihat dari tidak berjalannya sistem penghalang berupa jaring yang mengitari wilayah pelabuhan. Seharusnya, jaring tersebut tetap basah agar debu benar-benar menempel dan jatuh bersama air yang merambat di badan jaring.

Akan tetapi, yang terjadi di lapangan, semua jaring yang terpasang dalam kondisi kering, bahkan semua sudah berwarna hitam tanda debu batu bara sudah melekat kuat di jaring tersbut, dengan keadaan demikian, wajar saja jika jaring tertiup angin debu akan terbang berhamburan ke luar dan sampai ke pemukiman-pemukiman warga.

"Jaring memang terpasang, kita sudah sering katakan kepada Pelindo agar jaring itu harus selalu basah, sekarang kan bisa lihat sendiri, jaringnya kering dan kalau sudah kering kena angin debunya pasti terbang," kata Viva. (sep)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Masyarakat Minta Bongkar Muat Batubara Ditutup"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...