Kemenhub Minta KLHK Turun Tangan Atasi Debu Muat Batubara

CIREBON – Riak-riak sekelompok masyarakat yang menyoal debu batubara di Pelabuhan Cirebon, sudah sampai ke telinga petinggi di Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Atas hal itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenhub, Ir Sugihardjo MSi angkat bicara.
bongkar muat batubara di pelabuhan cirebon terus disorot
Sugihardjo angkat bicara (kanan). Foto: Fajri/Rakyat Cirebon
“Terkait aktivitas bongkar muat batubara (di Pelabuhan Cirebon), kita memang harus menyinkronkan antara kebutuhan pembangunan nasional dengan aspek-aspek lingkungan,” ungkap Sugihardjo, ditemui di kawasan Pelabuhan Cirebon usai menyerahkan hewan kurban ke kantor KSOP Kelas II Cirebon, kemarin.

Menurutnya, semua pihak yang terkait dalam aktivitas di Pelabuhan Cirebon harus bersama-sama mencari solusi terbaik, guna penanganan debu sebagaimana dikeluhkan masyarakat. Tapi di sisi lain, aspek perekonomian juga perlu diperhatikan.

“Kita harus mencari win-win solution. Terkait apa yang menjadi aspirasi masyarakat, khususnya persoalan lingkungan harus mendapatkan perhatian. Di samping juga tetap memperhatikan aspek perekonomian. Untuk itu KSOP sudah melakukan koordinasi-koordinasi, supaya semuanya bisa diakomodir,” terangnya.

Sugihardjo mengingatkan kepada KSOP Kelas II Cirebon, agar bongkar muat batubara di Pelabuhan Cirebon tidak mencemari lingkungan. Di sisi lain, masyarakat sekitar juga diharapkan memahami, bahwa keberadaan aktivitas bongkar muat batubara sebagai bagian dari kegiatan perekonomian.

“Saya pesankan kepada KSOP, pelayanan bongkar muat tidak boleh mengganggu masyarakat dan lingkungan. Di sisi lain, masyarakat juga diharap kesadarannya, bahwa ini untuk kepentingan ekonomi nasional,” katanya.

Tak hanya itu, Sugihardjo juga meminta kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KHLK) untuk turun tangan ke Pelabuhan Cirebon guna melakukan supervisi. Dengan begitu, akan ada rekomendasi untuk perbaikan yang akan diterbitkan KLHK.

“Kita juga meminta Kementerian LHK untuk melakukan supervisi dan memberikan rekomendasi bagaimana baiknya. Barangkali dengan pengalaman yang ada di KLH, bisa memberi solusi sekaligus upaya apa untuk mengurangi dampak lingkungan,” katanya.

Ditemui di tempat yang sama, Kepala KSOP Kelas II Cirebon, Rivolindo SH mengklaim, pihaknya sudah berusaha maksimal untuk meminimalisasi paparan debu batubara. 

Misalnya dengan peningkatan intensitas penyiraman kawasan pelabuhan. Namun paparan debu tetap saja terjadi, karena selain cuaca panas, angin kencang juga memengaruhi.

“Sudah kami atasi dengan penyiraman secara lebih intens. Karena panasnya luar biasa, anginnya juga kencang. Maka saya anggap ini kejadian yang cukup luar biasa. Sehingga penanganan debu juga harus luar biasa. Sehingga tidak sekadar mengikuti SOP yang kami buat,” katanya. 

Semakin kencangnya polemik debu batubara di kalangan masyarakat sekitar Pelabuhan Cirebon, membuat PT Pelindo II Cabang Cirebon akhirnya buka suara.

Manajer Operasional PT Pelindo II Cabang Cirebon, Yossianis Marciano mengaku, pihaknya telah melakukan penanganan batubara di kawasan pelabuhan secara optimal. “Penanganan batubara kita tingkatkan sejak musim angin. Apalagi sejak adanya keluhan dari masyarakat,” ungkap Yossi, ditemui di halaman kantornya.

Mengenai munculnya keluhan masyarakat, Yossi menyebutkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Cirebon dan stake holder kemaritiman lainnya yang ada di Pelabuhan Cirebon. “Apa saja yang sudah dikerjakan kita koordinasikan,” ujarnya.

Ditambahkan Yossi, untuk menekan potensi sebaran debu di musim kemarau seperti saat ini, pihaknya melakukan beberapa langkah. Diantaranya, meningkatkan intensitas penyiraman, hingga berencana melakukan pengadaan mobil penyedot debu.

“Kita melakukan penyiraman dalam sehari itu berkali-kali, kemudian penambahan armada mobil penyiraman, pengawasan di lapangan dari PT Pelindo sendiri setiap jam ada gilirannya. Kita juga lakukan perbaikan jalan, termasuk saat ini dalam proses pengadaan mobil penyedot debu,” terangnya.

Disinggung soal alat ukur kadar udara, Yossi menyampaikan, PT Pelindo baru akan membuat alat tersebut yang terbuat dari pipa paralon berisikan air. Dengan begitu, bisa diketahui debu yang bertebaran itu berasal dari batubara atau benda lain.

“Kalau alat deteksi yang bentuknya elektronik itu sangat canggih, itu belum kita upayakan. Sekarang masih pakai yang sederhana. Sama dengan yang dipakai oleh beberapa perusahaan,” katanya. Dalam setahun, pemantauan udara dilakukan sebanyak empat kali.

Sebelumnya, Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Pelabuhan KSOP Kelas II Cirebon, Viva Indriyani Ayu ST MSi mengatakan, pihaknya tidak pernah berhenti melakukan penanganan maupun antisipasi paparan debu dengan skala tinggi.

"Kita itu setiap hari muter-terus mas. Waktu kita kontrol memang selalu beres. Tapi terakhir saya kontrol dengan GM PT Pelindo, saya katakan bahwa KSOP minta agar PT Pelindo serius," kata Viva. (jri)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Kemenhub Minta KLHK Turun Tangan Atasi Debu Muat Batubara"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus