Audiensi Dibatalkan, Ngamuk di Gedung DPRD

CIREBON – Sebelum melakukan aksi demonstrasi besar-besaran di depan gedung DPRD dan balaikota, para sopir dan pemilik angkot bersama ojek pangkalan menggeruduk Griya Sawala gedung DPRD. Mereka awalnya ingin menghadiri audiensi yang digelar Komisi I DPRD dengan melibatkan perwakilan driver transportasi online.
sopir angkot minta transportasi online ditutup
Sopir angkot ngamuk di gedung DPRD Kota Cirebon. Foto: Fajri/Rakyat Cirebon
Mulanya, massa hanya duduk di Griya Sawala. Namun, sekitar hampir sejam rapat audiensi tak kunjung dimulai, lantaran perwakilan angkot dan transportasi online terlebih dahulu berunding terbatas bersama Komisi I DPRD dan Dishub Kota Cirebon di ruang lobi, massa angkot dan ojek mulai berteriak meminta audiensi dimulai.
Usai berunding, Komisi I, Dishub, perwakilan Organda dan transportasi online masuk ke ruang rapat utama Griya Sawala gedung DPRD. Rupanya, saat berunding disepakati bahwa audiensi tidak bisa digelar, karena dari pihak angkot mengerahkan massa. Sedangkan dari pihak transportasi online, sesuai undangan, hanya perwakilan.
“Karena beberapa hal pertimbangan, terutama dalam rangka menjaga kondusivitas Kota Cirebon menjelang pelaksanaan FKN, kita bersepakat audiensi ini ditunda,” ungkap Ketua Komisi I DPRD, Drs Yayan Sopyan. Atas hal itu, massa sopir dan pemilik angkot beserta ojek konvensional tak terima.
Mereka berteriak mengecam sikap DPRD yang inkonsisten. Mereka merasa mendapatkan undangan untuk audiensi, tapi secara sepihak dibatalkan. Massa angkot dan ojek juga sempat meneriaki belasan orang perwakilan transportasi online, hingga akhirnya sebagian keluar Griya Sawala.
“Kita sangat kecewa terhadap DPRD. Kita diundang oleh DPRD untuk membahas persoalan transportasi online. Tapi kenapa pimpinan dewan tidak ada? Hanya ada Pak Yayan. Sedangkan undangan ditandatangani ketua DPRD,” ungkap Koordinator angkot D5 dan D6, Safarudin.
Ia mengaku, beberapa pentolan sopir angkot sudah mengantisipasi agar massa sopir angkot tidak berbuat anarkis dan ribut ketika audiensi. Tapi sayangnya, DPRD sendiri justru mengecewakan dengan membatalkan audiensi itu. “Saya sudah antisipasi ke teman-teman untuk tidak ribut. Tapi mana balasan dari DPRD? Malah membatalkan sepihak,” katanya.
Safarudin hanya meminta kepada Pemkot Cirebon dan DPRD untuk tegas menutup transportasi online. Pihaknya juga sudah menduga, even FKN akan menjadi alasan untuk mengulur-ulur penyelesaian persoalan transportasi online. “Saya sudah bilang ke Pak Karsono (sekretaris Organda Cirebon), kita akan dininabobokan oleh dewan, karena alasan akan ada FKN,” katanya.
Sementara itu, salah satu perwakilan dari driver transportasi online, Bayu menyampaikan, saat berada di dalam gedung dewan, audiensi batal dilakukan dan akhirnya terjadi kisruh. Yang pasti, Bayu mengatakan, pihaknya tidak mengerahkan massa. Tidak seperti yang dilakukan pihak angkot dan ojek.

“Kita tidak mengerahkan massa. Hanya perwakilan, sekitar 15-20 orang, perwakilan dari setiap komunitas. Dari pihak angkot sendiri mengerahkan massa. Padahal kita sih inginnya audiensi. Kita ingin memaparkan, bahwa pangsa pasar kita dan angkot berbeda,” ungkapnya.

Maka dari itu, menurut Bayu, antara transportasi online dengan konvensional sebenarnya bisa beroperasi bersamaan. Ia menyebutkan, misalnya ketika angkot mogok massal, banyak penumpang yang terlantar. Itu menunjukkan bahwa pengguna angkot juga masih banyak. “Makanya kita berharap bisa bergandengan beroperasi bersama,” katanya. (jri)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Audiensi Dibatalkan, Ngamuk di Gedung DPRD"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...