Suara dari Sisi Lain

Oleh: Ardi Rosidin Abdullah 

PERUBAHAN musim saat ini rupanya turut memberikan andil atas menurunya ketahanan tubuh Saya dalam beberapa hari ini. Tenggorokan terasa kering hingga menelan ludah saja seakan tidak nyaman, suhu tubuh memanas, terpaan angin yang masuk dari ventilasi udara sudah cukup membuat tubuh ini menggigil. 
veteran pejuang kemerdekaan republik
Ardi Rosidin Abdullah. do. Rakyat Cirebon 
Belum lagi cairan dari hidung yang terus mendesak keluar turut menganggu jalannya pernafasan. Durasi istirahat di tempat tidur disertai dengan tayangan program di layar kaca meningkat dalam beberapa hari ini. Aktivitas luar ruang dibatasi walaupun tidak sepenuhnya berhenti. 

Entah karena menurunnya kesehatan tubuh yang betul-betul membutuhkan waktu untuk istirahat atau sikap mental yang terlanjur memanjakan diri selama ini membuat aktifitas rutin yang biasa dilakukan selama ini menjadi terhalang. Kenyataannya Saya masih melindungi diri dengan jaket dan selimut untuk menahan rasa dingin serta pusing di kepala yang membuat badan ini menjadi berat untuk beranjak. 
Dalam keadaan sendiri ada pikiran yang berkecamuk seolah tengah bersilang pendapat. Ada bagian lain dari diri yang sepertinya menyangsikan kesungguhan menurunnya kondisi kesehatan Saya. Bagian lain itu adalah pertanyaan “apakah betul daya tahan tubuh Saya ini sangat menurun sehingga banyak aktifitas yang harus ditinggalkan ?” 

Pertanyaan yang muncul dari sisi lain ini menjadi semacam gugatan atas sikap yang seolah membenarkan keputusan untuk tidak ke masjid melaksanakan shalat berjamaah, mengesampingkan kegiatan kerja bakti bersama warga di lingkungan rumah. 

Bahkan tuntutan perhatian lebih dari keluarga untuk sekedar menunjukan betapa terbatasnya aktifitas yang bisa dilakukan. Sesaat kemudian Saya meletakan telapak tangan di kening dan leher untuk mensugesti bahwa suhu badan ini masih cukup tinggi tanpa ada upaya menggunakan termometer untuk memastikannya apalagi memeriksakan diri ke dokter. 

Kesimpulannya bagian lain dari pikiran ini memaklumi kondisi tubuh yang lemah berargumentasi untuk absen dari aktifitas rutin.
“Bagaimana mungkin di bulan Agustus yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia ini ada pikiran yang begitu lemah hingga menjebakan diri dalam kubangan waktu tanpa aktifitas apapun ?” bagian lain yang cerewet terus mengajukan pertanyaan yang lebih tepat disebut sebagai cibiran. Belum sempat alasan untuk menepisnya dikemukakan, rentetan kalimat berikutnya datang susul menyusul seolah menghakimi. 

“Apa Kamu tidak liat di TV sisa-sisa veteran pejuang kemerdekaan republik ini masih antusias mengikuti upacara bendera walaupun nyata-nyata tubuhnya telah rapuh ditelan usia ? atau Kamu tidak tau jika segelintir dari Veteran Pejuang yang masih ada pun menyandang cacat akibat pertempuran dalam merebut kemerdekaan serta mempertahankan kedaulatan dan harga diri bangsa ? 

Kalau tak ingin terlalu jauh paling tidak cobalah tengok anak-anak atau remaja yang mau bersusah payah ikut lomba panjat pinang sekedar untuk memperoleh bingkisan yang digantung panitia untuk memeriahkan hari kemerdekaan ini”. 
Saya tidak berminat beragumentasi lagi dengan sisi lain pikiran Saya yang terus mendera dengan kalimat yang memojokan. Selimut yang semula menutupi tubuh hanya sebatas dada Saya tarik hingga menutupi wajah hingga membenamkan seluruh tubuh agar kalimat-kalimat pedas yang berlontaran itu tidak terdengar lagi. 

Namun demikian bukannya sepi yang didapat, keheningan yang diinginkan justru kian memunculkan suara lainnya, menghentak-hentak dan riuh menelanjangi. 

“Apa betul Saya ini selemah seperti apa yang diteriakan suara-suara dari pikiran lain itu ?”. Belum habis lintasan pikiran itu muncul suara lain itu kembali menggema “Lantas kalau Kamu bukan orang lemah bagaimana mungkin lantunan suara adzan yang begitu nyaring dari pengeras suara masjid tidak mampu menggerakan diri untuk melaksanakan sholat berjamaah ? 

Mengapa Kamu langsung menjatuhkan pilihan untuk berhutang saat ada kebutuhan hidup yang harus ditunaikan dibandingkan dengan mengusahakan uang dari hal lain yang lebih bermartabat ? 

Mengapa Kamu lebih banyak mengeluh saat orang lain bermaksud memberikan nasehat sebagai bentuk perhatian ? mengapa Kamu cenderung mencari dukungan dari orang lain dengan cara menghasut saat id-idemu tidak memperoleh dukungan ?”.
Lambat laun kalimat-kalimat itu semakin deras berseliweran dan hampir saja mendorong Saya untuk berontak jika saja tidak ada suara adzan yang dikumandangkan untuk menunjukan waktu sholat asyar telah tiba. 

Saya beristighfar sembari menepiskan selimut yang semula menutupi tubuh. Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan, ternyata televisi masih menyala dan tengah menayangkan kilas balik sejarah bangsa saat perang kemerdekaan. 

Beberapa pejuang menandu tokoh kharismatik Jenderal Sudirman yang memimpin perjuangan bangsa bergerilya melawan penjajah dengan kondisi tubuh yang tidak hanya demam karena pengaruh perubahan cuaca, tetapi sakit parah yang disebabkan oleh penyakit pada paru-parunya.

Tapi bapak pejuang ini tidak mundur, terus dikobarkannya semangat berjuang bagi segenap pasukan hingga jasanya tak ternilaikan. Saya terdiam sejenak sambil merenungkan bagaimana mungkin kondisi yang baru sebatas ini bisa memundurkan diri dari aktifitas yang seharusnya dilakukan. (*)  

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Suara dari Sisi Lain"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus