Studi Banding Anggota DPRD Dituding Boros Anggaran

KUNINGAN - Keberangkatan seluruh Komisi di DPRD Kabupaten Kuningan dengan tema studi banding ke beberapa kota di luar Pulau Jawa, mendapat sorotan sejumlah pihak. 
studi banding anggota dprd kuningan jadi sorotan publik
Studi banding anggota DPRD Kuningan jadi sorotan publik. Foto: Ist./Rakyat Cirebon
Salah satu kritik tajam disampaikan aktivis F-Tekkad, Sujarwo BA alias Mang Ewo yang mengatakan tidak mustahil studi banding para wakil rakyat tersebut akan memunculkan sikap sinis dari masyarakat. 

“Keberangkatan seluruh Komisi DPRD Kuningan dengan tema studi banding ke daerah luar Pulau Jawa, tidak mustahil akan memunculkan sikap sinis dari masyarakat,” kata Mang Ewo, kemarin (21/8).

Hal tersebut menurutnya cukup beralasan. Di tengah berbagai kesulitan ekonomi yang saat ini dirasa melilit lapisan masyarakan kurang beruntung, agenda studi banding para wakil rakyat yang disinyalir akan menghabiskan anggaran ratusan juta rupiah tersebut, terkesan bertolak belakang dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini. 

“Studi banding para anggota dewan ke daerah pulau jawa yang memakan biaya ratusan juta rupiah ini jelas sangat bertolak belakang dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini. Tidak bisa disalahkan jika kegiatan studi banding tersebut banyak yang dinilai sebagai suatu sikap yang tidak memiliki empati terhadap kesusahan masyarakat,” tuturnya.

Agenda studi banding para anggota DPRD yang terkesan menghamburkan anggaran yang berasal dari APBD itu, lanjut Mang Ewo, juga akan memunculkan pertanyaan apakah kegiatan yang tujuannya menambah wawasan para wakil rakyat yang terhormat itu tidak bisa didapatkan dari daerah yang lokasinya masih ada di pulau Jawa, sehingga tidak terjadi pemborosan uang rakyat.

“Akan sangat disesalkan jika dari hasil studi banding yang anggarannya berasal dari pajak yang dibayarkan oleh masyarakat, tidak membawa dampak positif terhadap upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat Kabupaten Kuningan,” ucapnya.

Kritikan tajam lainnya disampaikan aktivis LSM Merah Putih, Boy Sandi Kartanegara. Ia berpandangan agenda studi banding para wakil rakyat Kuningan tersebut seyogyanya terlebih dulu ada dijelaskan kepada masyarakat yang diwakilinya, untuk tujuan apa dilakukan studi banding ke luar pulau Jawa. 

Termasuk di dalamnya berapa lama waktu yang dibutuhkan, dinas dadan dan lembaga apa saja yang akan dikunjungi. Dan yang terpenting adalah berapa biaya yang diperlukan untuk studi banding tersebut.

“Kita sering mendengar anggota dewan atau pejabat daerah melakukan studi banding kesana kemari tapi hampir tak pernah ada penjelasan detil tentang hal-hal yang saya pertanyakan di atas. Kalau sudah ada penjelasan secara rinci, mudah-mudahan tak akan memperpanjang rasa suudzan (buruk sangka, red) masyarakat kepada para anggota dewan yang dipandang hanya menghambur-hamburkan dana para pembayar pajak. Anekdot yang beredar kan studi banding itu hanya sekedar untuk mewakili rakyat yang belum pernah mengunjungi Pulau Batam, Palembang, Makassar, atau daerah lainnya,” sindir Boy.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, agenda studi banding 4 Komisi DPRD Kuningan tersebut dilakukan selama 4 hari, terhitung Senin kemarin hingga Kamis mendatang (24/8) dengan menghabiskan anggaran yang bersumber dari APBD sebesar Rp400 juta lebih. Penjelasan tersebut seperti yang telah disampaikan Sekretaris DPRD H Suraja SE MSi sebagai pihak Sekretariat yang berkewajiban memfasilitasi para anggota dewan itu.

Kunjungan kerja atau studi banding para anggota dewan ini terbagi 4 Komisi, dengan masing-masing Komisi terdiri dari Komisi I dipimpin H Dede Ismail SIP MSi berangkat ke Pulau Batam Kepulauan Riau, Komisi II dan IV ke Makassar Sulawesi Selatan dengan masing-masing dipimpin Yudi Moh Rodi SE dan H Ujang Kosasih MSi, dan Komisi III ke Palembang Sumatera Selatan dengan dipimpin oleh Tresnadi. (muh)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Studi Banding Anggota DPRD Dituding Boros Anggaran"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus