Profesi Pemandu Wisata Masih Minim

MAJALENGKA - Potensi pariwisata di Majalengka saat ini belum dikelola dengan baik. Salahsatunya, masih minimnya profesi guide atau pemandu wisata untuk menjelaskan keunggulan objek wisata kepada pengunjung, khususnya wisatawan mancanegara.
majalengka kekurangan pemandu wisata
Objek wisata Paralayang Majalengka. Foto: Herik/Rakyat Cirebon
Jika tanpa persiapan yang matang, sejumlah profesi yang bergerak di bidang pariwisata di Majalengka, juga akan diambil orang luar daerah yang lebih kompeten. Untuk itu penguasaan bahasa asing harus dikuasai oleh para pelajar saat ini. Supaya tidak diambil alih oleh para pendatang untuk mengisi profesi-profesi yang akan berkembang di Majalengka.

Hal ini ditegaskan Wakil Gubernur Jawa Barat, H Dedi Mizwar, ketika ditanya soal pengembangan wisata di daerah Majalengka. Menurutnya, ke depan Majalengka akan lebih banyak SMK Pariwisata, mengingat potensi wisata Majalengka yang cukup menjanjikan.

"Saya pikir warga Majalengka harus benar-benar mempersiapkan diri. Terutama para pelajar harus bisa menguasai bahasa asing. Karena nanti setelah BIJB beroperasi, pertumbuhan bisnis apapun, termasuk wisatawan asing akan berdatangan. Dan tentu akan harus menginap di Majalengka, dan melihat serta mengunjungi wisatanya," ungkap Dedi.

Pria yang akrab disapa Demiz ini mengatakan, jika warga Majalengka tidak siap, guide objek wisata Majalengka akan diambil alih oleh orang asing. Karena, penggunaan bahasa asing menjadi acuan utama era globalisasi yang semakin menunjukkan eksistensinya. "Intinya kita harus bersiap-siap, maka oleh karenanya persiapkan untuk menghadapi itu semua," ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, salah satu lembaga kursus bahasa asing di Jatiwangi, Badi mengatakan, animo masyarakat untuk mempelajari bahasa asing, baik bahasa Korea, Inggris dan Jepang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hanya saja, maksud dan tujuan mempelajari bahasa asing tersebut masih untuk kepentingan kerja di luar negeri.

"Mempelajari bahasa asing memang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, namun itu belum mengarah untuk digunakan di wilayah Majalengka, tetapi itu untuk keperluan menjadi TKI/TKW," ungkapnya.

Badi menjelaskan, kemungkinan untuk menerapkan bahasa asing dalam kehidupan nyata di tataran kabupaten, memang dinilai cukup potensial. 

"Tentu kita sambut baik, karena para pekerja yang saat ini di luar negeri juga sudah bosan ingin berusaha di negeri sendiri. Kalau memang potensi wisata Majalengka menjanjikan wisatawan asing datang ke kita, itu perlu disambut baik," ungkapnya. (hrd)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Profesi Pemandu Wisata Masih Minim"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus