Menghitung Hasil Panen

Oleh: Ardi Rosidin Abdullah

MINGGU pagi saya sempatkan diri berkunjung ke rumah seorang kenalan di daerah Palimanan Cirebon. Purnawirawan TNI Angkatan Udara yang akrab disapa pak haji  itu kini mengisi masa pensiunnya dengan menggarap lahan pertanian. 

menghitung kerugian petani padi
Ardi Rosidin Abdullah. dok. Rakyat Cirebon
Sekalipun beliau tidak betul-betul secara langsung memegang cangkul, namun sawahnya di Desa Ciawi dengan luas kurang dari satu hektare saat ini menjadi salah satu tumpuan hidupnya. 

Saat dipersilahkan masuk ternyata di teras rumah sudah ada tamu yang lebih dahulu datang, usianya sekitar awal 60-an, berkulit gelap dan mengenakan tutup kepala ala koboi. 

Walaupun tubuhnya tidak terlalu besar, namun bentuk badan serta otot yang tampak dari tangannya menguatkan dugaan Saya bahwa sang tamu adalah seorang pekerja keras. Pembicaraan mereka sejenak terhenti saat tangan diulurkan untuk saling berjabatan. 

Setelah duduk dan sesaat mendengarkan obrolan mereka dapat diketahui bahwa sang tamu adalah orang kepercayaan tuan rumah yang mengurusi lahan pertaniannya. 

Inti dari pembicaraan yang kerap melontarkan beberapa kali keluhan dari keduanya itu ternyata merujuk pada penjualan gabah hasil panen dari lahan yang digarapnya.     
Usai lebaran tahun ini awalnya terbersit harapan kegembiraan dari mereka karena lahan pertanian yang digarap akan memasuki masa panen. 

Namun penantian yang penuh harap itu akhirnya berbuah pahit karena panen yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan. 

Padi yang ditanam tidak tumbuh sebagaimana mestinya, warnanya daunnya berubah seperti layu, bulirnya tidak berkembang sempurna bahkan tidak jarang yang berwarna hitam. Konon keadaan yang hampir sama terjadi pada beberapa tempat lainnya seperti wabah. 
Yang menjadi keprihatinan mereka perubahan yang kurang menggembirakan ini seolah pengulangan atas kegagalan panen yang terjai pada musim sebelumnya. 

Penebaran pupuk dan penyemprotan anti hama seakan tidak memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman padi di lahan pertanian, justru beberapa penggarap lahan menandai perubahan yang tidak diharapkan itu terjadi setelah proses pemupukan dan penyemprotan obat anti hama. 

Sebagai seorang yang awam terhadap masalah pertanian saya cuma bisa mendengarkan pembicaraan mereka dengan rasa prihatin. Sejurus kemudian sang tuan rumah melontarkan pertanyaan kepada Saya tentang bunga bank. 

Semula Saya berpikir bahwa pak haji akan menempatkan dananya pada deposito, ternyata beliau cuma tengah membuat perbandingan hitungan antara kisaran bunga deposito dengan uang yang dipegangnya dari hasil penjualan gabah kering yang baru saja dilakukan. 

Dari sepertiga hektare lahan pertanian yang dimiliki yang biasanya rata-rata menghasilkan gagah kering hingga dua ton ternyata saat ini cuma menghasilkan dua kuintal saja. 

Dengan harga jual gabah kering sebesar Rp4.750 per kilogram, panen dari lahan yang dimilikinya kali ini hanya menghasilkan uang sebesar Rp950.000. 

Berapa kerugian yang dialami jika lahan yang digarap lebih luas lagi ? Selanjutnya mengalirlah pembicaraan pak haji menguraikan soal biaya-biaya yang telah dikeluarkannya untuk mengelola lahan tersebut.
Sebagai orang yang pernah dibesarkan di lingkungan keluarga petani hati Saya terenyuh demi mendengarkan kegagalan panen petani seperti ini. 

Bagaimana mungkin peristiwa kegagalan panen yang pernah terjadi pada musim sebelumnya bisa terulang pada musim berikutnya tanpa adanya sosialisasi peringatan dini dan upaya preventif lainnya dari pemerintah daerah. 

Padahal menurut Undang Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani negara memberikan perlindungan yang sangat luas terhadap nasib petani. 

Negara memandang pentingnya pemberdayaan petani untuk meningkatkan kemampuan petani dalam melaksanakan usaha tani secara lebih baik melalui pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan. 

Termasuk di dalamnya adalah pengembangan sistem serta kemudaha akses ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi serta penguatan kelembagaan pertanian. Artinya dalam kondisi seperti ini kehadiran negara melalui aparaturnya mutlak diperlukan. 

Situasi ini sungguh layak untuk memperoleh perhatian seksama dari pemerintah, karena kegagalan panen secara berulang memiliki hubungan erat dengan ketahanan pangan nasional, termasuk di dalamnya adalah kesejahteraan para petani itu sendiri. 

Pemerintah Daerah tidak bisa abai dengan kondisi ini untuk menjaga terpenuhinya kecukupan bahan makanan pokok. 

Jangan sampai kerugian yang mendera dunia pertanian ini mengalihkan fokus para petani atau pemilik lahan untuk membuat komparasi dengan hitungan-hitungan lain diluar pertanian dan membuat keputusan fatal hingga mengabaikan pertanian. (*)    

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Menghitung Hasil Panen"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...