KSOP Pernah Dibuat Kesal Pengusaha Batubara

LEMAHWUNGKUK - Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Cirebon langsung bergerak cepat terkait adanya keluhan debu batubara. KSOP memanggil para pengusaha batubara untuk melakukan evaluasi.
ksop cirebon panggil pengusaha batubara
Mobil penyiram debu batubara di pelabuhan Cirebon. Foto: Asep/Rakyat Cirebon
Humas KSOP, M Dany Jaelani mengatakan, pihaknya sudah dua kali melakukan pertemuan dengan para pelaku usaha yang terlibat dalam aktifitas bongkar muat batubara untuk membicarakan permasalahan antisipasi debu yang dikeluhkan.

"Kalau warga mendesak kita (KSOP,red) untuk mengevaluasi para pengusaha, kita sudah lakukan dua kali pertemuan, bahasannya sama, yaitu tentang penanganan debu batu bara itu," ungkap Dany saat diwawancarai wartawan koran ini, kemarin.

Pada pertemuan pertama, lanjutnya, memang surat undangan KSOP terkesan diremehkan para pengusaha, sehingga mereka pun mewakilkan para pekerja dilapangan untuk memenuhi panggilan tersebut.

Namun KSOP mengambil langkah tegas, untuk itu, undangan kedua pun kembali dilayangkan dan pada pertemuan tersebut berkumpul semua pemegang kebijakan di pelabuhan yang terlibat bongkar muat, mereka semua merumuskan langkah penanganan di lapangan.

"Sudah dua kali kita panggil untuk evaluasi, pertama dianggap tidak mewakili karena yang datang karyawannya, yang kedua kita desak, dan yang datang pimpinan-pimpinannya, disitu kita tentukan langkah-langkah penanganan," lanjut Dany.

Beberapa kesimpulan dari pertemuan kedua antara KSOP dengan para pengusaha, dituturkan dia diantaranya adalah kesepakatan bersama untuk menanggapi keluhan-keluhan warga sekitar terkait debu.

"KSOP sudah sepakat dengan para pengusaha untuk mengantisipasi debu, diantaranya dengan menambah kapasitas air dalam penyemprotan, kontribusi PBM berupa penambahan tangki semprot, termasuk pengadaan penyedot debu yang dijanjikan oleh Pelindo dan masalah terpal penutup truk pengangkut," jelas Dany.

Sebelumnya, warga sekitar pelabuhan menagih janji KSOP yang akan melakukan evaluasi kinerja para pengusaha batu bara, karena hingga saat ini, dampak dari aktifitas bongkar muat batu bara masih dirasakan warga sekitar pelabuhan.

"Kami menunggu janji dari KSOP untuk segera memanggil para pengusaha untuk melakukan evaluasi, secepatnya karena hingga saat ini kami masih kebagian debunya," ungkap Syarif Rahman, ketua RW 03 Pagongan Timur kepada rakcer. 

Sementara terpisah, Ketua Asosiasi Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) Cirebon, Sukirno angkat bicara soal riak-riak sejumlah masyarakat yang menyoal debu batubara. Menurutnya, persoalan utama yang dikeluhkan mereka sebenarnya bukan persoalan debu.

“Kalau ngomong masalah debu, saya pikir dimanapun kalau musim angin begini pasti ada debu. Kelihatannya arahnya bukan ke debunya,” kata Sukirno.

Ia menjelaskan, angkutan atau mobil truk pengangkut batubara dipastikan sudah menjalani tahapan pembersihan di dalam Pelabuhan Cirebon, sebelum keluar aral pelabuhan. Selain itu, laju kendaraan juga paling di kisaran 20-40 km/jam. Artinya, potensi sebaran debu dari angkutan sangat minim.

“Mobilnya sudah dicuci, sudah ditutup terpal, muatannya juga sudah diratakan. Jadi kalau masih mawur-mawur itu dari mana? Logikanya, jalan di kota itu kecepatannya paling 20-40 km/jam. Jadi mawur-mawur dari mana? ‎Di pelabuhan manapun, Pelabuhan Cirebon itu paling rapih. Sampai dicuci dulu (mobil yang mau keluar pelabuhan),” tutur Sukirno.

Di sisi lain, saat disinggung mengenai beberapa angkutan batubara yang melintasi jalur Pantura, bukan lewat tol sebagaimana disepakati beberapa waktu lalu, Sukirno mengaku, pihaknya akan menegur sopir sekaligus pemilik angkutan yang diduga melintas jalur Pantura tersebut.

“Saya juga mau ngomong sama sopir. Kalau yang masih lewatnya jalur Pantura, ‎yang susah diatur, saya akan ngomong ke pemiliknya. Nanti suruh diganti sopirnya atau mobilnya tidak boleh masuk pelabuhan,” ujarnya.

Namun demikian, Sukirno juga menyebutkan, angkutan berupa truk yang lewat jalur Pantura, tak melulu mengangkut batubara. Ada beberapa komoditas barang lainnya yang juga diangkut dari Pelabuhan Cirebon.

“Tapi yakinkah yang lewat itu yang mengangkut batubara? Karena ada juga yang muat pasir, jagung, dan lainnya. Jangan semua‎ mobil yang lewat jalan itu dikira mengangkut batubara,” kata dia (sep)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "KSOP Pernah Dibuat Kesal Pengusaha Batubara"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus