KSOP: Pelindo Belum Serius Tangani Debu Batubara

LEMAHWUNGKUK – Debu batubara kian meresahkan masyarakat sekitar pelabuhan. Ditambah cuaca musim kemarau sehingga debu batubara mulai dikeluhkan masyarakat.
yayasan santo dominikus tolak keberadaan batubara
Jaring penahan debu batubara di pelabuhan Cirebon. dok. Rakyat Cirebon
Seperti halnya sekolah yang berseberangan dengan pelabuhan yakni Yayasan Santo Dominikus. Mereka sejak awal yang menolak keras adanya aktifitas bongkar muat batubara sangat mengeluhkan dampaknya.

Bahkan, setiap hari para siswanya harus merasakan dampak dari debu batubara yang dihembuskan dari pelabuhan. Dan hal tersebut dirasa sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar yang berjalan.

"Sangat terasa sekali mas, debu itu sampai kesini kalau tidak percaya, kita pernah menggelar kain berwarna putih di halaman sekolah dan tidak perlu waktu lama kain itu berubah hitam," keluh Sr M Albertine OP, Ketua Yayasan Santo Dominikus pada Rakcer, kemarin.

Sehingga pihaknya pun dari awal secara tegas menolak aktivitas batubara di pelabuhan Cirebon. “Kami tetap menolak adanya batubara di pelabuhan cirebon. Dan sangat jelas sangat merusak kesehatan,” tegasnya.

Sementara itu, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Cirebon selaku penanggung jawab enggan selalu disalahkan. 

Pasalnya, KSOP secara maksimal telah melakukan upaya-upaya di lapangan, termasuk selalu memberikan teguran kepada PT Pelindo dan para pengusaha batu bara.

Akan tetapi, teguran tersebut seakan tidak dihiraukan sehingga debu tetap dikeluhkan dan lagi-lagi KSOP yang menjadi kambing hitam.

"Selama ini, kami sudah berupaya maksimal, mulai dari pengawasan dan lain-lain. Sampai saya sendiri capek ngomong terus sama para pengusaha, tapi bukti di lapangannya tidak ada sedangkan masyarakat tahunya ya KSOP," ujar Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Pelabuhan KSOP Kelas II Cirebon, Viva Indriyani Ayu ST MSi saat diwawancarai wartawan koran ini, kemarin.

Dengan alat-alat yang ada, termasuk empat mesin semprot debu yang beroperasi di wilayah pelabuhan, KSOP dikatakan Viva tidak pernah berhenti melakukan penanganan-penanganan sesuai dengan tupoksinya di pelabuhan, walaupun terkadang ada hal teknis di lapangan yang tidak seharusnya dilakukan KSOP karena tidak menjadi tugasnya.

"Kami setiap hari muter terus, waktu kami kontrol memang selalu beres. Tapi, terakhir saya kontrol dengan GM Pelindo, saya katakan KSOP minta agar Pelindo serius," lanjut Viva.

Terlepas dari upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh KSOP, hingga saat ini, keseriusan Pelindo dan para pengusaha memang belum terlihat. 

Salahsatu contohnya seperti janji KSOP yang mengatakan akan menyewa mobil penyedot debu (Street Weaper) untuk menangani debu, akan tetapi hingga saat ini alat tersebut belum terlihat beroperasi.

Selain itu, Ketidakseriusan PT Pelindo dalam menangani debu juga terlihat dari tidak berjalannya sistem penghalang berupa jaring yang mengitari wilayah pelabuhan. 

Seharusnya, jaring tersebut tetap basah agar debu benar-benar menempel dan jatuh bersama air yang merambat di badan jaring.

Akan tetapi, yang terjadi di lapangan, semua jaring yang terpasang dalam kondisi kering, bahkan semua sudah berwarna hitam tanda debu batu bara sudah melekat kuat di jaring tersebut, dengan keadaan demikian, wajar saja jika jaring tertiup angin debu akan terbang berhamburan ke luar dan sampai ke pemukiman-pemukiman warga.

"Jaring memang terpasang, kita sudah sering katakan kepada Pelindo agar jaring itu harus selalu basah, sekarang kan bisa lihat sendiri, jaringnya kering dan kalau sudah kering kena angin debunya pasti terbang," kata Viva. (sep)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "KSOP: Pelindo Belum Serius Tangani Debu Batubara "

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...