Perintahkan Hapus CCTV, Manajemen PO Bhinneka Diduga Terlibat

KEJAKSAN - Dari tiga orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka, satu diantaranya adalah petugas dari pihak menejemen PO Bhinneka. Hal ini menimbulkan kecurigaan petugas bahwa pihak manajemen juga ikut terlibat dalam kasus ini.
manajemen po bhinneka diduga terlibat penganiayaan
Polisi otopsi jenazah korban penganiayaan oleh oknum PO Bhinneka. Foto: Asep/Rakyat Cirebon
Tersangka berinisial H yang merupakan karyawan manajemen PO Bhinneka ditetapkan sebagai tersangka karena terbukti memerintahkan untuk menghapus rekaman CCTV yang menjadi alat bukti.

"15 saksi telah kita periksa, tetapkan tersangka ada 3, salah satunya kita tetapkan tersangka karena dia memerintahkan seseorang untuk menghapus CCTV, menghilangkan barang bukti," demikian disampaikan oleh Kapolres Cirebon Kota, AKBP Adi Vivid Agustuadi Bachtiar SIK MHUM MSM saat diwawancarai sejumlah wartawan, kemarin.

Dengan adanya fakta tersebut, lanjut dia, timbul dugaan adanya keterlibatan pihak manajemen dalam kasus ini. Belum lagi waktu kejadian yang diperkirakan mulai Subuh sampai siang hari, dan pada waktu tersebut aktifitas bagian manajemen juga sudah berjalan di kantor PO setempat.

"Kami akan panggil pihak manajemen. Sejauh mana menejemen mengetahui perkara ini, dugaan pembiaran itu ada. Karena saat kejadian sudah masuk jam kerja. Seharusnya manajemen tahu apapun yang terjadi di jam-jam itu," lanjut Adi Vivid.

Dugaan petugas tersebut pun dikuatkan dengan fakta bahwa petugas keamanan yang telah dipanggil sebagai saksi ternyata tidak memiliki kartu anggota. Dapat dikatakan ia tidak terdaftar sebagai satpam resmi.

"Ternyata satpam tidak memiliki kartu anggota, dan pasti akan ada tersangka tambahan," kata Adi Vivid.

Selain itu, pihaknya terus melakukan penyelidikan terhadap kasus penganiayaan di kantor PO Bhinneka yang berujung meninggalnya korban berinisial R. 

Sat Reskrim Polres Cirebon Kota beserta tim forensik melakukan otopsi terhadap jenazah korban yang sudah dimakamkan di TPU Desa Kasugengan Kidul, Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon, Jumat (21/7). Setelah dilakukan otopsi, pihaknya mendapatkan fakta-fakta baru mengenai kasus ini.

Pada jenazah korban, ia membenarkan bahwa ada bekas-bekas kekerasan dan pukulan dari benda tumpul yang diduga dilakukan saat penganiayaan di PO Bhinneka pada Senin (17/7). Namun secara umum, saat dilakukan otopsi tidak ditemukan luka terbuka pada jenazah korban.

"Perkembangannya, hari ini (kemarin, red) kami lakukan otopsi, karena korban sudah dimakamkan. Kami gali kuburnya untuk otoposi di tempat. Petugas melaporkan adanya kekerasan terhadap korban, ada bekas-bekasnya," jelas Adi Vivid.

Mengenai hasil dari otopsi secara lebih jauh, pihaknya belum bisa memastikan dan memberikan keterangan penuh mengenai bukti-bukti kekerasan yang ditemukan di tubuh korban.

"Kami belum bisa menyebutkan secara rinci, ada tahap selanjutnya untuk nanti dibuat kesimpulan penyebab kematian korban. Yang pasti ditemukan adanya tanda kekerasan terhadap jenazah korban," lanjut dia.

Hasil otopsi kemarin, kata dia, akan ditindaklanjuti oleh tim dokter forensik di laboratorium. Selambat-lambatnya, hasil dari visum akan keluar setelah dua minggu, dari surat laporan itulah yang kedepan akan dijadikan bukti tambahan dalam penyelidikan kasus ini.

"Saat menerima surat lengkap dari forensik akan segera kami sampaikan hasil lengkapnya, paling cepat dua minggu, tapi bisa lebih cepat," jelasnya.

Mengenai adanya keterlibatan anggota TNI dalam kasus ini, Adi Vivid tidak bisa menafikan hal itu. Namun dalam prosesnya, pihak kepolisian menyerahkan kepada Datasemen Polisi Militer (Denpom) III/3 Cirebon untuk tindak lanjutnya.

"Terkait adanya dugaan oknum aparat, silakan nanti bertanya pada Denpom, kami hanya menangani perkara yang terkait dari sipil, kemarin memang sempat kita mintai keterangan," ujarnya.

Saat ini, kata dia, pihak kepolisian telah memeriksa 15 saksi dan menetapkan tiga orang tersangka. Besar kemungkinan akan banyak tersangka lain yang diduga ikut menganiaya kedua korban. 

Pihaknya dalam waktu dekat, akan memintai keterangan Suhendra yang saat ini masih terbaring lemah di RS Pelabuhan. Dialah yang akan menjadi saksi kunci dari kasus ini. 

Sementara itu, Manager Pengembangan Bisnis PO Bhinneka, Karsono SH MH mengatakan pihak menejemen tidak tahu menahu soal CCTV yang telah dihilangkan. Ia mengaku,  semua dokumen CCTV yang ada telah diserahkan kepada kepolisian sebagai bukti.

Ditambahkannya, yang bertanggung jawab penuh terhadap CCTV adalah tim IT. Sehingga pihak manajemen akan melakukan kroscek terhadap tim IT. Menurutnya petugas IT pun sudah dipanggil kepolisian sebagai saksi.

"Manajemen akan membantu tugas kepolisian dalam mengungkap kasus ini, kami akan fair. Bukti CCTV sudah kami serahkan. Namun memang kantor kami ini baru direnovasi. Jadi, mungkin ada beberapa kamera CCTV yang berlum berfungsi," ungkap Karsono.  (sep)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Perintahkan Hapus CCTV, Manajemen PO Bhinneka Diduga Terlibat "

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...