Mencuplik Pesan dari HAN

Oleh: Ardi Rosidin Abdullah

BERDASARKAN Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 44 tahun 1984 maka pada 23 Juli ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional (HAN). 
ardi rosidin hari anak nasional
Ardi Rosidin Abdullah. dok. Rakyat Cirebon
Melalui keputusan ini negara menegaskan bahwa anak sebagai generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa perlu dibekali keimanan, kepribadian, kecerdasan, keterampilan, jiwa dan semangat kebangsaa.

Serta kesegaran jasmani agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berbudi luhur, bersusila, cerdas dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Namun demikian disamping bekal tersebut diperlukan pula upaya pembinaan dengan mengarahkan anak untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran akan hak, kewajiban dan tanggung jawab mereka kepada orang tua dan masyarakat serta bangsa dan negara.

Penyelenggaraan Hari Anak Nasional sesuai dengan Keputusan Presiden tersebut memiliki tujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran anak agar menghormati orang tua, berjiwa dan bersemangat membangun, berbakti dan mengabdi kepada bangsa dan negara yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 

Namun demikian isu hangat soal anak beberapa waktu terakhir ini sangat terfokus pada kekerasan dan pelecehan seksual. 

Bahkan dalam beberapa kesempatan terbuka Komisi Perlindungan Anak Indonesia melansir bahwa dua kasus tersebut dari waktu ke waktu cenderung mengalami peningkatan jumlah yang cukup memprihatinkan. 

Tidak hanya anak sebagai korban, bahkan tidak sedikit pula kasus yang melipatkan anak justru sebagai pelaku. 

Kondisi yang serius ini menimbulkan kesibukan yang begitu besar beberapa pihak yang concern terhadap masalah anak hingga mendorong beragam upaya untuk menurunkan permasalahan yang dampaknya sangat mengganggu kelangsungan dan masa depan anak sebagai generasi penerus bangsa.  

Dari pemberitaan beberapa media tentang peringatan Hari Anak Nasional bisa disimak pesan beberapa pihak yang masih berkisar pada perlunya perhatian terhadap anak agar terbebas dari tindak kekerasan dan pelecehan seksual. 

Menteri Sosial Kofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa Anak-anak mestinya tidak menjadi korban perundungan (bullying), kekerasan, dan pelecehan seksual. Mari kita koreksi diri apa yang sudah kita berikan untuk anak-anak kita. Anak-anak membutuhkan perlindungan agar mereka dapat tumbuh sehat, gembira dan bahagia. 

Sementara itu dengan latar belakang yang sama Asrorun Naim sebagai Ketua KPAI menyampaikan jangan sampai langkah yang diambil mengedepankan pendekatan punitif yang justru mematikan masa depan anak, menghilangkan hak dasarnya, serta semakin mendorong anak untuk terus melakukan tindakan yang salah tanpa upaya pemulihan. 

Yang menarik dari Peringatan Hari Anak Nasional 2017 ini adalah pesan yang disampaikan oleh Kak Seto dan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Menurut Kak Seto Mendorong anak sebagai pelopor dan pelapor yang sangat tepat dipilih panitia untuk disosialisasikan. 

Bahwa anak harus berani mempelopori sesuatu di garis depan tetapi juga berani melapor berbagai hal-hal yang tidak layak atau tidak seharusnya dilakukan kepada anak-anak. 

Sementara itu Presiden Joko Widodo menyampaikan marilah kita para orang tua dan semua yang sudah layak disebut dewasa untuk mengingat kembali peran dan tanggung jawab kita bagi anak-anak sebagai generasi muda penerus bangsa. 

Sayangi dan cintai anak-anak kita dan anak-anak lain terutama anak-anak yang membutuhkan. Jangan sesatkan mereka dengan ajaran-ajaran yang tidak baik. Ajarkanlah sopan santun sehingga mereka bisa tumbuh menjadi orang-orang yang baik terhadap semua orang tanpa terkecuali.

Sayangnya perhatian besar terhadap permasalahan anak ini seolah tidak memiliki benang merah dengan beberapa aspek lainnya yang bersumber dari pola prilaku masyarakat dan orang dewasa khususnya dalam membangun interaksi sosialnya yang berlangsung selama ini. 

Berangkat dari keinginan untuk membangun sikap yang seolah-olah demokratis, terbuka dan memahami permasalahan anak pada akhirnya tidak sedikit yang justru menjebak anak masuk dalam pusaran sikap yang tidak terkendali. 

Tidak jarang tafsir terhadap kekerasan menjadi tipis sekali batasannya dengan mengajarkan sikap disiplin sehingga berujung pada perbedaan perspektif antara satu pihak dengan pihak lainnya. 

Bagimanapun juga Kita harus bersepakat bahwa kekerasan terhadap anak tidak boleh terjadi dengan alasan apapun, namun pola asuh atau pendidikan terhadap anak yang cenderung “kompromistis” juga tidak jarang memberikan dampak jangka panjang yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Usai membaca beberapa informasi terkait dengan peringatan Hari Anak Nasional  seorang rekan bercerita tentang anak tetangganya yang masuk sekolah lanjutan pertama negeri favorit padahal menurut aturan yang berlaku semestinya tidak bisa diterima. 

Seolah tidak mau kalah dengan informasi yang diketahuinya, istri Saya ikut pula menimpali dengan cerita yang dialami anak temannya. 

Dengan alasan kemauan anak, kehendak anak dan beragam alasan lainnya yang dialamatkan pada anak, akhirnya mereka menempuh cara apapun agar anaknya dapat diterima di sekolah lanjutan favorit, meskipun berdasarkan ketentuan yang berlaku hal itu mustahil terjadi. 

Jika cara-cara curang seperti itu sudah diperkenalkan kepada anak saat memasuki pendidikan dasar, jagan-jangan pesan Presiden Joko Widodo itu lebih tepat disampaikan pada peringatan Hari Orang Tua Nasional. (*) 

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Mencuplik Pesan dari HAN"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus