Memberikan Kebanggaan

Oleh: Ardi Rosidin Abdullah  
  
MEMBERIKAN kebanggaan pada orang lain khususnya orang tua seringkali terasa sulit saat komunikasi yang dibangun tidak cukup berhasil. Dalam terminologi informatika diperlukan frekuensi yang sama agar apa yang menjadi keinginan orang tua dan kehendak sang anak berlangsung secara baik. 
terminologi informatika
Ardi Rosidin Abdullah. dok. Rakyat Cirebon
Sayangnya frekuensi yang berbeda seringkali menyebabkan alur komunikasi terhambat dan laju pembicaraan berakhir pada kesimpulan yang salah. Tidak jarang maksud orang tua yang baik tujuannya terterima sebagai beban bagi sang anak, begitu juga sebaliknya. 

Dalam persfektif negatif kesamaan frekuensi bisa juga menimbulkan kerusakan. Jika  dua generasi melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan norma bersama-sama, maka yang dilakukan anak menjadi ringan saja, karena hal yang sama dilakukan juga orang tuanya.
Sepertinya bagi keluarga kebanyakan ada semacam konsensus terhadap arti dari sebuah kebanggaan. Kebanggaan merupakan aktualisasi dari suatu kegiatan dan proses kreatif orang secara pribadi maupun kolektif dalam suatu lingkungan yang memperoleh hasil atau apresiasi positif dari pihak lain. 
Saat siswa yang rajin belajar memperoleh hasil ujian yang tinggi, maka guru dan orang tua merasa bangga atas prestasi yang telah diraihnya. Kebanggaan atas suatu keberhasilan tidak semata-mata karena peristiwa yang bersifat pribadi. 

Tidak jarang kita terharu dan bahkan meneteskan air mata saat lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan di ajang olympiade seperti halnya prestasi yang pernah ditorehkan oleh Susi Susanti dan Alan Budikusuma atau ganda Liliana Natsir dan Ahmad Tontowi dari cabang bulutangkis. 

Sekalipun secara pribadi Kita tidak mengenal mereka, namun sebagai warga bangsa Kita merasa bangga atas prestasi yang telah mengukirkan nama Indonesia di pentas olah raga dunia.
Kemarin salah seorang anak Saya mengikuti pertandingan Taekwondo yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga pendidikan Islam di Kabupaten Cirebon. 

Sepulang dari kantor Saya sempatkan diri untuk menyaksikan penampilannya dengan perasaan campur aduk karena semangatnya berlaga di ajang ini untuk memetik hasil positif cukup besar. 

Pada sore hari antusiasmenya itu akhirnya membuahkan hasil, pertandingan terakhirnya berhasil ia menangkan hingga medali emas berhak diraihnya. 

Sujud syukur dia lakukan di tepi arena pertandingan saat wasit menyatakannya sebagai pemenang. Hal sederhana yang mungkin bagi sebagian orang adalah biasa ternyata tidak berhasil membendung air mata Saya mendapati sang anak meneriakan kemenangan. 

Ternyata memberikan kebanggaan itu sederhana saat sebuah aktivitas positif  berada dalam frekuensi yang sama. 

Namun, sekelebat rasa ragu timbul dan memberikan kecemasan mendalam saat mendapati bahwa sebuah kebanggaan itu sangat berarti tidak hanya bagi Saya tetapi juga bagi dirinya yang ingin menghadirkan prestasi itu untuk orang tuanya. 

Pertanyaannya sudahkah Saya dulu memberikan kebanggaan pada orang tua baik saat mereka masih ada maupun sesudahnya ?
Untuk hal yang berbeda kebanggaan tidak jarang menciptakan ekspektasi tinggi dari seseorang atau komunitas atas sesuatu hal. 

Apalagi jika wawasan awalnya dibuka oleh cerita atau bacaan yang menegaskan tentang hal itu. Pertunjukan seni yang diberi label budaya daerah seolah menghubungkan Kita dengan masa lalu yang menghadirkan proses kreatif dalam bingkai maha karya yang adiluhung. 

Sayangnya ekspektasi besar itu menjadi naif manakala seperangkat produk yang diberi label budaya daerah itu jauh dari harapan baik secara pribadi maupun komunal. Menyaksikan karnaval di Cirebon yang spanduk dan promosi kegiatannya bertabur kata-kata dalam bahasa asing seperti jiwa yang naif karena ekspektasi yang tinggi. 

Terlepas dari siapakah sebenarnya segmen yang hendak disasar, namun sulit rasanya memahami sebuah kegiatan di daerah yang bertajuk warisan budaya disesaki oleh kata-kata dalam bahasa asing. 
Pilihan bahasa asing yang digunakan dibandingkan Bahasa Cirebon atau Bahasa Indonesia seolah menegaskan betapa sudah tidak berdaulatnya budaya daerah di kampung halamannya sendiri digilas arus dominasi  identitas asing. 

Secara pribadi sulit bagi Saya menerima kenyataan bahwa kalimat dalam spanduk kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah itu menggunakan bahasa asing. 

Pertama karena mengapa harus bahasa asing, kedua diperlukan usaha keras untuk memahami artinya. Semoga langkah ini dilakukan bukan karena rasa frustasi atas peristiwa masa lalu saat pemerintah kolonial Inggris menjejakan kekuasaannya di tanah Jawa. 

Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles mengeluarkan kebijakan mempensiunkan para Sultan Cirebon dari statusnya sebagai pegawai pemerintah kolonial Belanda dan menghapuskan seluruh kekuasaan kesultanan yang menandai berakhirnya masa keemasan kerajaan Cirebon. Lantas langkah apa selanjutnya yang akan dilakukan untuk memberikan kebanggaan ?  (*)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Memberikan Kebanggaan"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...