Identitas

Oleh: Ardi Rosidin Abdullah
   
SEBUAH stasiun televisi nasional memberitakan tentang rencana pernikahan seorang aktris senior tanah air Nani Wijaya dengan sastrawan Ajip Rosidi. Berita ini membawa kita sejenak melupakan berita politik dan skandal korupsi yang belakangan begitu riuh mewarnai berbagai pemberitaan di media. 
ardi rosidin abdullah identitas
Ardi Rosidin Abdullah.dok. Rakyat Cirebon 
Sebenarnya peristiwa pernikahan adalah hal biasa terjadi dalam keseharian masyarakat, namun untuk peristiwa ini paling tidak ada dua hal menarik walaupun secara pribadi Saya tidak mengenalnya langsung kecuali melalui karyanya. Hal menarik tesebut pertama karena usia keduanya sudah tidak muda lagi, Nani Wijaya memasuki usia 72 tahun dan Ajip Rosidi 79 tahun. Selanjutnya adalah mengenai  pernikahan mereka yang rencananya akan dilangsungkan di Cirebon. 

Hal ini sedikit banyaknya telah menjadikan peristiwa ini sebagai sesuatu yang tidak biasa bagi Saya. Selama ini tidak banyak dijumpai proses pernikahan yang dilakukan oleh calon pengantin dengan usia seperti mereka, sehingga proses keduanya menuju pelaminan menjadi semacam jawaban bagi Kita bahwa takdir Tuhan menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin dan cinta bisa menemukan wujudnya dalam bentuk yang bisa jadi tidak terbayangkan sebelumnya. 

Sungguhpun peristiwa tersebut belum betul-betul terjadi hari ini, tetapi liputan media yang menyorot kedua tokoh ini paling tidak telah menjadi proses awal yang mengundang rasa penasaran bagi beberapa pihak untuk mengikutinya.

Saat Kota Cirebon dipilih oleh keduanya sebagai tempat untuk melakukan akad nikah, terselip perasaan bangga pada diri Saya sebagai orang Cirebon. Lebih-lebih saat lokasi yang dipilihnya adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa di lingkungan Keraton Kasepuhan yang merupakan salah satu peninggalan bersejarah. Berita tersebut menjadi publisitas positif bagi Kota Cirebon. 

Rasanya patut kedua tokoh tersebut memperoleh apresiasi sebagai pihak yang ikut mengangkat nama Cirebon atas pemilihan lokasi untuk prosesi pernikahannya. Apalagi acara ini berpotensi untuk dihadiri oleh para pesohor tanah air yang akan turut menyaksikan peristiwa tersebut. 

Peristiwa ini harus dimaknai sebagai sebuah penghormatan terhadap sejarah, budaya dan masyarakat Cirebon di tengah keringnya agenda positif pemangku adat yang bisa membawa citra positif Cirebon secara Nasional. 

Membicarakan tentang Cirebon tidak bisa dilepaskan dari Kerajaan Cirebon yang dibangun sebagai sebuah negara dengan sejarah panjang  dalam proses pembentukannya hingga melahirkan sebuah identitas komunal yang bersifat inklusif. Memahami Cirebon tidak berarti sekedar mendengarkan cerita atau membaca potensi ekonomi melalui inventarisasi  angka-angka secara statistik. 

Ada nilai-nilai spiritual dan budaya yang kental dalam hubungan masyarakat, kebangsaan serta demokratisasi yang begitu kuat diletakan sebagai pondasi oleh para pendiri. Kesadaran dan kenyataan bahwa Cirebon merupakan himpunan dari beragam unsur yang heterogen menjadi ciri dan kekuatan besar di samping keberadaan pelabuhan Cirebon pada masa lalu yang cukup strategis sebagai simpul perhubungan antar etnis dan pasar ekonomi yang diperhitungkan oleh banyak kalangan. 

Ditambah dengan sikap masyarakat dan ketokohan para pemimpin yang mampu mengakomodir unsur-unsur asing yang  hadir di tengah masyarakat membentuk sinergi dalam mengokohkan Cirebon sebagai suatu identitas.

Pembauran masyarakat di Cirebon pada awal pembentukanya berjalan secara alamiah, proses perkawinan antar etnis bisa menjadi rujukan bahwa dimensi pluralisme di tanah Cirebon telah berjalan sebagai sebuah harmoni. Penduduk lokal sebagai mayoritas yang menjadi  bagian penting dari Cirebon berbagi ruang dengan beberapa etnis besar lainnya yang ada seperti China, Arab dan Hindustan hingga menjadi suatu kekuatan yang melembaga. 

Setelah konsepsi pluralisme berjalan beberapa abad menjadi bagian dari Cirebon, maka selayaknya bangsa ini bangga bahwa sejak dahulu leluhurnya meletakan toleransi yang besar dalam membangun hubungan bersama di dalam masyarakat yang terdiri dari latar belakang etnis berbeda. Hambatan terhadap etnisitas dan agama yang cenderung menjadi penyebab terjadinya konflik dalam sejarahnya dapat diminimalisir. 

Semangat inilah yang seharusnya tetap dipelihara dan diwariskan dari masa ke masa, sebuah semangat secara sadar untuk berbagi dari para warga bangsa yang beragam dalam satu ikatan dengan tetap memberikan tempat untuk melindungi ekspresi dan karakteristik asal yang dimiliki tanpa harus terjebak pada sikap paradoks karena heterogenitas yang ada di lingkungannya.

Pemberitaan tentang rencana perkawinan Nani Wijaya dan Ajip Rosidi tersebut pada akhirnya seperti menyadarkan kembali tentang sebuah identitas yang seharusnya menjadi bagian hidup sehari-hari. Kesadaran yang seharusnya juga dimaknai secara positif oleh semua kalangan di saat mungkin sebagian orang lain melupakanya. 

Ternyata ada tokoh yang selama ini berkiprah di dunia seni dan sastra Indonesia memberikan penghormatan atas sebuah identitas yang semoga saja selama ini tidak terlupakan nilai-nilainya oleh masyarakat yang bahkan mungkin masih tinggal di kota ini. Terima kasih pada Nani Wijaya dan Ajip Rosidi atas penghormatan yang diberikan, semoga prosesi perkawinannya berjalan lancar hingga sesudahnya. (*)      


Dapatkan berita terkini:

2 Responses to "Identitas"

  1. Kerajaan Cirebon dulu pernah mengalami masa kejayaan, seharusnya di zaman yang lebih modern seperti saat ini dengan fasilitas komunikasi yg canggih Cirebon hyarus bisa lebih dikenal luas masyarakat dunia.

    BalasHapus
  2. Membaca tulisan ini pun membuat saya bangga sebagai masyarakat cirebon.. Simbol pluralisme juga tercermin dalam kereta Paksi Naga Liman..

    BalasHapus

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...