Untuk Sebuah Nama

Oleh:  

Ardi Rosidin Abdullah

AKU mengingat “Untuk sebuah nama” merupakan sebaris penggalan lagu yang pernah populer di era tahun 80-an yang menggambarkan betapa besarnya pengaruh nama pada perasaan orang tertentu yang mengingatnya.
Ardi Rosidin Abdullah
Ardi Rosidin Abdullah. dok. Rakyat Cirebon

Sebuah nama bisa membangkitkan semangat dan sugesti, menciptakan kerinduan, kebanggaan, perasaan haru serta suka cita. Namun tidak jarang sebuah nama juga menjelma menjadi sebuah teror, menebarkan bencana, tipu daya dan kebencian atau ketakutan baik nama itu melekat pada individu, kelompok maupun organisasi.

Secara umum bagi manusia beradab memberikan nama yang baik bagi anak-anaknya merupakan kewajiban dengan harapan kelak nama yang disandangnya dapat menghantar mereka menjadi pribadi yang unggul, tangguh, dihormati, memiliki budi pekerti yang baik serta sukses dalam berkarier maupun finansial.

Tetapi tidak jarang pihak-pihak tertentu  menyandangkan nama dengan makna atau konotasi yang buruk seperti yang digunakan oleh kelompok atau organisasi yang sejak awal memang memiliki tujuan untuk menjalankan aktifitas yang buruk seperti gangster, para begal atau kawanan penjahat untuk menebarkan rasa takut.

Tidak sedikit orang-orang tertentu juga menggunakan julukan-julukan yang buruk di samping nama aslinya sebagai cara untuk menunjukan identitasnya.

Terlepas dari nama yang berarti baik maupun yang memiliki arti atau berkonotasi buruk keduanya sama-sama memiliki tujuan untuk menegaskan identitas sesuai dengan reputasi yang ingin dibangunnya.

Mungkin bagi sebagian orang terasa janggal bagaimana bisa nama yang berkonotasi buruk digunakan untuk menjaga reputasi, tetapi demikian halnya yang terjadi bila kelompok tertentu ingin menegaskan eksistensinya di dunia hitam atau kriminal mempengaruhi pikiran lawan atau masa agar terbangun rasa takut hingga tunduk dalam kendalinya.

Lebih-lebih jika penggunaan nama yang dilengkapi dengan simbol-simbol itu lantas diikuti dengan aksi yang mendukung. Maka lengkap sudah reputasi sebagai pihak yang paling kuat, paling sadis atau paling kejam dilekatkan pada hati dan pikiran pihak-pihak yang dalam posisi lemah tak berdaya.

Dalam dunia bisnis masalah nama juga tidak kalah pentingnya dibandingkan aspek lain seperti produksi dan distribusi, karena nama yang kuat dan populer menjadi pembuka jalan bagi tingginya kepercayaan publik hingga otomatis akan memberikan dampak bagi produksi dan distribusi.

Oleh karena itu, tidak sedikit pelaku usaha yang menggelontorkan biaya promosi dan kampanye produk untuk memperkuat reputasi yang ingin dibangunnya. Beragam instrumen komunikasi digunakan sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan layanan dan kepercayaan yang ujung-ujungnya adalah reputasi.

Setiap masalah yang dianggap berpotensi menimbulkan resiko reputasi diantisipasi semaksimal mungkin agar tidak tereskalasi secara luas.

Demikian pentingnya sebuah nama diberikan guna membangun reputasi sehingga banyak kalangan berpikir keras dalam merumuskan dan membuat sebuah nama baik agar tidak sebatas kata dan artinya yang mudah diingat.

Tetapi juga identik dengan kualitas produk serta efektif menyasar kalangan yang hendak dituju di tengah persaingan dengan kompetitor yang lain.

Celakanya jika pemberian nama tidak selalu identik untuk menegaskan tujuan atau identitas yang ingin dibangunnya.

Nama yang dibuat hanya sekedar untuk memperoleh penilaian baik secara semu atau sekedar meningkatkan dukungan banyak pihak agar memiliki kekuatan masa yang besar.

Namun, di dalamnya penuh kepalsuan, menipu dan tidak jarang menjualnya demi kepentingan pribadi dan merugikan banyak pihak.

Kelompok yang menamai dirinya sebagai pemberani, nyatanya tidak lebih dari sekumpulan pecundang menunjukan bahwa pemberian nama tidak berbanding lurus dengan kualitas atau apa yang dihasilkan sehingga melahirkan kerancuan terhadap nama dan reputasi yang sesungguhnya.

Akibatnya tidak aneh jika seorang kepala daerah yang telah menandatangani fakta integritas anti korupsi di depan KPK justru akhirnya ditahan karena kasus korupsi yang diduga diotakinya dengan merancang “jual beli jabatan” di lingkungan Pemerintah Daerah yang dipimpinnya.

Akan lebih mudah mengidentifikasi kelompok atau organisasi yang memiliki nama sesuai dengan reputasinya, terlepas reputasinya adalah sesuatu yang positif maupun negatif agar insiden seperti beberapa nama pengusaha besar yang pernah diundang pemerintah sebagai pembayar pajak terbesar.

Namun, belakangan diduga tidak memiliki NPWP seperti dilansir media dapat ditelusuri secara bijak dan menerima keadilan.

Kemunafikan nama hanya akan mencederai pihak-pihak lain yang telah membangun reputasinya melalui sikap dan tindakan yang dilandasi dengan moralitas dan integritas yang tinggi.

Lantas untuk apa kita harus mempertaruhkan persahabatan, persaudaraan dan hubungan mesra dengan banyak orang hanya “Untuk sebuah nama”, jika pada akhirnya reputasi dari nama yang disandangnya tidak seperti yang diharapkan.

Terlalu besar konsekuensinya jika pengorbanan yang dilakukan hanya untuk sebuah nama. Sementara pada sisi lain sang pemilik justru tengah memainkan mimiknya laksana seorang pemeran sandiwara. (*)


Dapatkan berita terkini:

3 Responses to "Untuk Sebuah Nama"

  1. Barangkali memang harus hati2 ya menentukan pilihsn

    BalasHapus
  2. nama adalah doa,oleh karena itu sebaiknya berikan namayg baik untuk anak-anak kita lalu ajarkan mereka untuk berbuat baik

    BalasHapus
  3. nama baik, sikap dan integritas yang baik. Itu yang harus dipelihara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini, bukan sekedar pencitraan. Termasuk juga hindari cara-cara tidak terpuji untuk menjatuhkan nama baik orang lain baik dalam berpolitik maupun sikap sosial kita

    BalasHapus

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus