Kyai Makhtum Dikenal Ulama Kharismatik Indonesia

SUMBER – Kyai kharismatik yang merupakan tokoh Nadhlatul Ulama (NU) dan pengasuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon tutup usia. Ia adalah KH Makhtum Hannan yang wafat pada Sabtu (21/1) lalu pukul 07.00 Wib di kediamannya Pondok Pesantren Masyaariqul Anwar Babakan Ciwaringin.
Tokoh NU KH Makhtum Hannan meninggal dunia
Jenazah KH Makhtum Hannan. Foto: Ari/Rakyat Cirebon

Almarhum dikebumikan di kompleks Pasarean Maqbaroh Kidul KH Abdul Hanan pada pukul 15.30 Wib. Beliau meninggalkan istri Nyai Hj Aminah Makhtum dan anak-anaknya antara lain Ny Hj Ida Frida (istri KH Marzuki Ahal), KH Rahmat Jauhari, H Kholid, H Arsyad, dan Syahid.

Menurut keponakan  almarhum, KH Azis Hakim Syaerozi, KH Makhtum Hannan merupakan sosok ulama karismatik dan cukup berpengaruh di Indonesia. Di dalam struktur PBNU beliau masuk jajaran struktur tertinggi yakni menjadi satu dari sembilan ulama Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang diberikan mandat untuk memilih rois Syuriah PBNU saat Muktamar Jombang tahun lalu.

“Beliau adalah salah satu dari sembilan kyai khos yang dimiliki Indonesia,” paparnya.

Lebih jauh diceritakan, almarhum dilahirkan di Cirebon, 13 Juni 1938 dari pasangan KH Abdul Hannan dan Nyai Solihah. Nasabnya, KH Abdul Hannan adalah putra Kiai Toyyib bin Kiai Masina bin Kiai Juman bin Kiai Mansur bin Kiai Abbas bin Kiai Subki bin bin Kiai Kamali bin Kiai Abdurrahim bin Syeikh Abdul Latif bin Mas Buyut bin Sunan Ratna Geulis/Kikis bin Sunan Raja Desa bin Sunan Bahuki bin Khatib Arya Agung bin Dalem Suka Hurang bin Sayid Maulana Faqih Ibrahim bin Syaikh Abdul Muhyi, dan seterusnya hingga Sunan Giri bin Maulana Ishaq.

Beliau belajar ilmu agama kepada sang ayah KH Abdul Hannan, pada pamannya KH Masduki Ali, dan juga kakanya KH Amrin Hannan. Almarhum juga pernah belajar di Pondok Pesantren Kaliwungu nyantri kepada Kiai Abu Khaer Pasarean, Kiai Subki, dan Ustadz Fadhil. Juga belajar di Pondok Pesantren Lasem di bawah asuhan Syeikh Masduki dan Syeikh Mansur bin Khalil.

Sepulang menuntut ilmu, KH Makhtum Hannan meneruskan pondok pesantren ayahnya di Babakan Ciwaringin, Cirebon. Tahun 1960 bersama kiai-kiai lain mendirikan Madrasah al-Hikamus Salafiyyah (MHS) tingkat, Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah, Aliyyah, dan Ma’had Ali.

Sekitar tahun 1963 KH Makhtum Hannan bersama pengasuh Pesantren Babakan Ciwaringin lainnya mendirikan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model. KH Makhtum mendirikan Jamiyyah Hadiyu dan Istighatsah. Cabang-cabangnya tersebar di seluruh wilayah tiga Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu. Bahkan jaringannya sudah tersebar di Jawa maupun Luar Jawa.

Setiap malam Jumat sejak tahun 1996 Kiai Makhtum memimpin istighatsah bertempat di Maqbarah KH Abdul Hannan. Setiap bulannya diadakan Istighatsah Kubro yang diikuti ribuan orang dari pelosok-pelosok desa dan luar daerah.

Selain mengajar santri putra-putri, setiap hari selama 12 jam KH Makhtum Hannan sibuk melayani tamu dari semua lapisan masyarakat yang datang dengan pelbagai macam keperluan dan kepentingan: pejabat, pengusaha, pedagang, petani, pengurus organisasi, mahasiswa, bahkan tamu-tamu dari luar negeri. Mereka umumnya meminta nasihat, masukan, dan doa agar segala tujuan dan kepentingannya tercapai.

Pendekatan yang digunakan Kiai Makhtum adalah hikmah melalui berbagai pendampingan kepada pengusaha, pedagang, petani dan nelayan. Banyak dari mereka yang saat ini telah sukses. (ari)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Kyai Makhtum Dikenal Ulama Kharismatik Indonesia "

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus