Jarak Tebing Sungai ke Pemukiman Makin Kritis

Sejumlah Rumah Warga Rusak, Sebagian Penghuninya Mengungsi

SUMBERJAYA - Musibah abrasi kembali melanda desa Sepat Kecamatan Sumberjaya. Bahkan, bencana alam mirip kejadian tahun lalu ini kondisinya semakin parah. Hal ini menyusul longsor susulan tebing sungai Ciwaringin yang menyeret sebuah pemukiman milik seorang warga bernama Kandung (70) yang berada di blok Dua RT 1 RW 4.
rumah warga desa sepat majalengka terancam longsor
Rumah warga desa Sepat terancam longsor. Foto: Hasan/Rakyat Cirebon

"Abrasi terjadi sekitar pukul 03.00 WIB pada Minggu (22/1) kemarin. Kami mendapatkan laporan dari pemilik rumah dan survei ke lokasi," kata kepala Desa Sepat, Hasan Sanusi.

Dia menuturkan, tebing sungai Ciwaringi yang semula hanya berjarak sekitar satu meter dengan pemukiman masyarakat. Kali ini semakin kritis akibat abrasi susulan. Bahkan, pagar bambu disamping rumah warga sudah ambles tergerus aliran sungai.

Menurutnya, jarak antara bibir sungai dengan pemukiman masyarakat pun hanya beberapa jengkal saja. Pemdes setempat semakin khawatir kondisi tersebut kembali terulang mengingat musim hujan masih terjadi. Dengan intensitas curah hujan tinggi membuat aliran sungai Ciwaringin meluap dan berimbas menggerus tebing sungai.

"Ada sembilan unit rumah, dua diantaranya sudah kritis dan tujuh lainnya terancam abrasi sungai ini. Kami langsung melaporkan kejadian tersebut ke BPBD Majalengka guna diberikan penanganan sementara," tuturnya.

Pihaknya meminta, kepada instansi terkait dalam hal ini BBWS untuk secepatnya memberikan bantuan dengan melakukan penyenderan secara permanen mengingat kondisi tersebut sudah semakin parah. Ia juga masih menunggu apakah perbaikan tebing yang benar-benar terealisasi.

"Mudah-mudahan secepatnya itu bantuan segera terealisasi. Karena kondisi dua rumah temboknya pun sudah mengalami keretakan. Kami berharap dan terus meminta agar permohonan rehabilitasi senderan sungai Ciwaringin diwilayah kami segera terwujud," harapnya.

Menurut dia, warga yang menetap di dua rumah terancam abrasi direlokasi ke rumah kerabatnya guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Adapun warga ditujuh rumah lainnya sementara masih menetap di kediamannya masing-masing.

Ia menjelaskan, tidak hanya pemukiman penduduk di Desa Sepat Kecamatan Sumberjaya yang terancam terkena abrasi susulan. Melainkan di sepanjang aliran sungai Ciwaringin, wilayah Majalengka bagian timur atau perbatasan Kabupaten Cirebon ini beberapa diantaranya juga kondisinya menghawatirkan.

Diantaranya, kata dia, tiga desa di Kecamatan Sumberjaya yakni desa Sepat, Parapatan serta Panjalin Kidul. Serta beberapa desa lainnya di Kecamatan Leuwimunding dan Rajagaluh juga terancam.
Seperti diketahui, sejak Februari 2016 kemarin di sekitar lokasi tersebut juga pernah mengalami abrasi.

Bahkan, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyatakan sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) terkait abrasi yang berada disepanjang bantaran sungai di Majalengka.

Tingginya ancaman bencana alam di Kabupaten Majalengka, disikapi serius oleh Badan Penanggulangan Bencana Alam (BPBD) Majalengka.

Bekerja sama dengan Pemcam Sindangwangi menggelar simulasi pemberdayaan masyarakat dalam menciptakan desa tanggap bencana. Pada kegiatan tersebut, sejumlah unsur ikut dilibatkan. Mulai  dari TP PKK, Karang Taruna, KOMPEPAR, LINMAS serta TNI POLRI.

Sekretaris BPBD, Drs A Mahmud MP mengatakan, dalam kegiatan tersebut pihaknya mendatangkan instruktur satgas atau relawan BPBD yang memberikan pengetahuan dasar soal SAR dan kesiap siagaan bencana. "Materi yang kami berikan diantaranya simulasi water rescue, panangan gempa, kebakaran," jelasnya.

Acara tersebut dibuka Kalaks BPBD, Dr H Toto Sumianto MPd, Kadis pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak  Dra Asmaradewi, serta Camat Sindangwangi.

Kalaks BPBD, Toto menjelasakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan skill unsur warga masyarakat dalam siaga dan penanggulangan dini bencana. Kegiatan tersebut melibatkan seluruh warga masyarakat.

"Kami memang sengaja melibatkan semua unsur masyarakat. Agar mereka memiliki kemampuan dasar penanggulanga bencana alam,"jelasnya.

Berdasarkan pantauan Raja, kegiatan yang di gelar di Talaga Herang itu,  mendapatkan sambutan positif dari warga. Bahkan, mereka cukup antusias.  

Sementara itu, sejumlah area pesawahan di desa Leuweunghapit Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka terancam gagal panen dan jalan karena terendam banjir setiap turun hujan besar.

Bahkan, beberapa rumah warga di blok Cikamangi desa Lewenghapit, juga sering terendam air akibat limpahan air dari sungai Cikamangi.

Kondisi tersebut diperparah oleh pintu air di blok Tambak Limpas desa Ampel yang terlalu sempit. Sehingga air sungainya mengalir ke dataran rendah yang posisinya ada di blok Cikamangi.

Kades Lewenghapit, Wawan Ridwan  mengatakan, bercermin dari musim hujan sebelumnya, meluapnya sungai Cikamangi ke blok tersebut memang sering terjadi ketika hujan lebat.

Meski sudah dibuat tinggi senderannya, tetap saja banjir meluap karena volume air semakin bertambah banyak.

"Penyebab utamanya, karena tanggul sungai Cikamangi yang berada di desa Lojikobong Kecamatan Sumberjaya terlalu rendah. Juga pintu air yang berlokasi di blok Tambak Limpas Desa Ampel terlalu sempit. Titik temu dari aliran air tersebut ada di Dusun Cikamangi yang merupakan datarannya paling rendah," ujarnya, Minggu (22/1).

Wawan berharap, agar pemerintah mencari solusi dengan tujuan supaya pada saat musim hujan dengan curah hujan yang tinggi tidak lagi membuat warganya kebanjiran karena luapan air Cikamangi tersebut.

"Kami berharap agar pemerintah mencari solusi, supaya warga dusun Cikamangi tidak lagi kebanjiran," ujarnya.

Camat Ligung, Yoyo melalui Kasi Trantib Didi Rusmanto mengatakan, banjir yang setiap saat terjadi di Desa Lewenghapit adalah banjir kiriman. Alasannya, hulu sungai kerap mengirimkan air dengan volume yang banyak selalu mencari tempat dataran yang paling rendah.

"Banyak warga yang meminta agar pintu air tersebut diperlebar. Supaya volume air dapat dikurangi, dan tidak melimpah ke warga Cikamangi. Kalau begini terus, setiap kali hujan lebat dengan intensitas yang banyak warga dan area sawahnya selalu terkena imbasnya, " tandasnya.  Warga setempat, Asep juga berharap, pemerintah segera bertindak cepat untuk mengatasi persoalan banjir tersebut. (hsn/pai/hrd)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Jarak Tebing Sungai ke Pemukiman Makin Kritis"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus