DPRD Kota Cirebon Sebut RSIA Cahaya Bunda Lalai

Diduga Minta Deposit Rp4 Juta, Klaim Lakukan Penanganan Cepat

KEJAKSAN– Manajemen Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Cahaya Bunda dimintai klarifikasi oleh Komisi C DPRD Kota Cirebon, di Griya Sawala gedung DPRD, kemarin. Bersamaan dengan mereka, manajemen RSUD Gunung Jati pun dihadirkan.
rapat rsia cahaya bunda dengan dprd kota cirebon
RSIA Cahaya Bunda diminta klarifikasi kematian bocah berusia delapan bulan. Foto: Nurul Fajri/Rakyat Cirebon

Hal itu dilakukan menyusul kasus kematian seorang bocah berusia delapan bulan asal RW 09 Kelurahan Pancuran Kecamatan Kejaksan pada Rabu (14/10) malam, di RSIA Cahaya Bunda.
Pihak RS dituding lalai, lantaran justru mengedepankan proses administrasi.

“Keluarga pasien mengaku, pada saat mereka datang ke RS Cahaya Bunda, pihak rumah sakit meminta deposit sebesar Rp4 juta terlebih dahulu. Ini kan jelas, bahwa rumah sakit itu mengedepankan aspek administrasi daripada dengan cepat melakukan tindakan,” kata anggota Komisi C DPRD, Jafarudin, usai rapat.

Ia menyayangkan, pihak RSIA Cahaya Bunda justru menekankan pembiayaan kepada pasien di awal proses masuk RS. Padahal, seharusnya terlebih dahulu melakukan tindakan medis. “Rumah sakit itu harusnya mengedepankan sisi kemanusiaannya lah. Jangan karena keluarga pasien tidak punya cukup uang untuk deposit, akhirnya pelayanannya lambat,” kata politisi Partai Hanura itu.

Berdasarkan pengakuan keluarga pasien, lanjut Jafar, saat RSIA Cahaya Bunda meminta uang deposit sebesar Rp4 juta, keluarga pasien hanya mengantongi uang Rp1 juta. Senada disampaikan Wakil Ketua Komisi C DPRD, dr H Doddy Ariyanto MM. Ia menyampaikan, pasien datang pukul 14.40 di RSUD Gunung Jati, kemudian ditangani RSUD Gunung Jati.

Karena kondisi RSUD Gunung Jati penuh, lanjut Doddy, pasien tersebut harus dirujuk ke RS yang memiliki faslitas PICU. Maka dari itu, dirujuklah ke RSIA Cahaya Bunda.  Terlebih dahulu, katanya, keluarga pasien mendatangi RSIA Cahaya Bunda sekitar pukul 17.00, untuk memastikan tempat dan administrasi.

Bocah penderita penyakit paru-paru itu pun kemudian dirujuk ke RSIA Cahaya Bunda setelah ada kesepakatan antara keluarga dan RSIA Cahaya Bunda, sekitar pukul 18.45 dari RSUD Gunung Jati dan sampai di RSIA Cahaya Bunda pukul 19.00.  “Pukul 19.30 dokter anak memberi penanganan dan pasien masuk ruang PICU. Pukul 23.30 pasien meninggal,” katanya.

Ia meminta agar RSIA Cahaya Bunda bisa membuat protap secara fleksibel untuk pasien, terutama dalam kondisi darurat dan peluang hidup kurang dari 50 persen. “Memberi dispensasi. Jangan kaku begitu. Ini kan urusannya nyawa,” kata dia. Sementara itu, Owner RSIA Cahaya Bunda, dr Yasmin Dermawan SpOG mengatakan, pihaknya memiliki prosedur tetap (protap) untuk menangani pasien.
Saat keluarga pasien bocah delapan bulan itu datang ke RSIA Cahaya Bunda, ditemui oleh pelaksana teknis. Sehingga protap dijalankan sebagaimana mestinya.

Diakui Yasmin, salahsatu protap yaitu harus adanya deposit dari keluarga pasien. Hal itu, kata dia, diberlakukan di hampir semua rumah sakit.  Bahkan pihaknya mengklaim, RSIA Cahaya Bunda tergolong RS yang mematok deposit rendah.  “Boleh cek di rumah sakit manapun, semua harus ada deposit. Punya kita malah tergolong rendah, di antara yang lain,” ujarnya.

Yasmin juga mengklaim, pihaknya tidak pernah meminta bayaran terlebih dahulu kepada keluarga pasien.   “Di UGD kita tidak pernah meminta bayaran terlebih dahulu. Banyak pasien BPJS, banyak juga pasien yang sisa bayarnya enggak bayar pun, kita atur bagaimana caranya meringankan pasien,” katanya.  Pada sesi lain, dr H Doddy Ariyanto MM juga menyentil RSUD Gunung Jati yang dianggap kurang cermat.

Dikatakan Doddy, keluarga pasien seharusnya tidak perlu direpotkan dengan mendatangi rumah sakit rujukan dari RSUD Gunung Jati. “Pasien ini kan awalnya datang ke RSUD Gunung Jati. Karena beberapa hal, akhirnya dirujuk ke RSIA Cahaya Bunda. Nah, seharusnya ada koordinasi antara RSUD Gunung Jati dengan RSIA Cahaya Bunda. Sehingga keluarga pasien tidak usah ke rumah sakit rujukan untuk memastikan ruangan dan proses administrasi,” ungkap Doddy.

Sementara itu, Direktur RSUD Gunung Jati, drg H Heru Purwanto MARS menegaskan, pihaknya sudah melakukan tindakan medis sebagaimana mestinya terhadap pasien tersebut.  “Kita berikan tindakan medis sebagaimana mestinya kepada pasien,” kata Heru.

Bahkan, setelah dinyatakan bahwa pasien tersebut diharuskan untuk dirujuk, pihak RSUD Gunung Jati langsung menghubungi RSIA Cahaya Bunda. Ditegaskan Heru, komunikasi antara pihaknya dengan RSIA Cahaya Bunda sudah berjalan.  “Kita tentu komunikasikan dengan rumah sakit tujuan rujukan. Bahkan, petugas medis kita antar pasien itu ke rumah sakit tujuan rujukan,” katanya. (jri)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "DPRD Kota Cirebon Sebut RSIA Cahaya Bunda Lalai"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus