Pelajar SMP Ketagihan Begituan, Rela Patungan Sewa Waria

pemerhati sosial ungkap kasus lgbt di majalengka

RAKYATCIREBON.CO.ID –  Prilaku lesbi, gay, bis*ksual dan transgender (LGBT) saat ini menjadi permasalahan yang sangat mengkhawatirkan. Bahkan, di Majalengka jumlah penyakit menyimpang itu makin meningkat.

Pemerhati sosial masyarakat Majalengka, Indra Subana SPd MPd mengatakan, prilaku LGBT tidak hanya di kota-kota besar namun masalah ini juga ada di Kabupaten Majalengka.

Selain haram dari tinjauan agama, kata dia, LGBT juga berdampak pada kerusakan generasi penerus bangsa. Serta menyebarkan penyakit, salah satunya HIV/AIDS.

“Berdasarkan beberapa investigasi  yang dilakukan mengenai permasalahan LGBT yang ada di Majalengka hasilnya cukup mencengangkan. Investigasi ini diambil dari beberapa sumber terpercaya dan pihak terkait,” ungkap Indra kepada Rakyat Majalengka, Kamis (8/2).

Ia menjelaskan, jumlah waria di Majalengka saat ini diperkirakan sekitar 150 orang. Sedangkan gay sekitar seribu orang. Seberannya waria kebanyakan di daerah Kadipaten sedangkan gay wilayah kota Majalengka.

“Walaupun di salah satu group di medsos ada nama salah satu kecamatan di Majalengka, namun sebenarnya hanya ada beberapa puluh saja. Sebagian besar pelakunya berada di wilayah Kota. Selain warga Majalengka asli, ada juga waria pendatang dari luar Majalengka,” tandasnya.

Dijelaskanya, dari tahun ke tahun jumlah pengidap LGBT mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Fenomena tersebut seperti gunung es.

Yang terlihat (tercatat, red) kadang lebih kecil dibandingkan dengan kenyataannya. Kalaupun berdasarkan wilayah Jawa Barat  LGBT ini jumlahnya masih kecil dibandingkan wilayah Kabupaten/Kota lainnya di Jawa Barat.

Selain itu, kata dia, khusus waria biasanya mangkal di tiga lokasi. Yakni, di sekitar salah satu pasar Majalengka, komplek pertokoan Jatiwangi, dan sekitar salah satu toserba Kadipaten.

Sedangkan gay, sering beroperasi di pusat kota Majalengka pada malam-malam tertentu di pusat kota Majalengka. Di lokasi tersebut jumlahnya mencapai puluhan sampai ratusan.

Salah satu minimarket di Majalengka juga menjadi tempat nongkrong para gay. Disini jumlahnya puluhan. Serta di beberapa tempat lainnya yang ada di Majalengka.

“Ternyata, gay mengenal kasta. Mereka susah disatukan. Misalnya, mereka ada kasta yang masih pelajar,  mahasiswa, anak orang miskin dan anak orang kaya. Terkdang gay kasta anak orang kaya biasanya menganggap jijik terhadap gay kasta anak miskin. Gay kasta orang kaya ini kadang mereka jalan-jalan ke tempat wisata di dalam negeri dan maupun luar negeri,” tandasnya.

Lebih lanjut, Indra menuturkan, walaupun di salah satu group facebook jumlahnya mencapai 6 ribu lebih, Namun, kenyataanya tidak kurang dari seribu orang. Selebihnya, merupakan gay yang berasal dari luar Majalengka atau juga ada beberapa akun palsu. Tujuan adanya group di medsos tersebut untuk mencari pasangan sejenis.

Groupnya sangat tertutup, untuk masuk ke group tersebut butuh waktu bertahun-tahun. Mereka menggunakan beberapa istilah misalanya BF (boyfriend) atau pacar. Serta istilah manly (pria) dan boty (pemaran wanita) dalam hubungan tersebut.

“Ternyata waria di Majalengka mempunyai pelanggan, kebanyakan mereka yang tidak punya uang (kalau bayar WTS tidak terjangkau, red). Salah satunya pelanggan tersebut adalah pelajar yang masih duduk di bangku sekolah (SMP) ke atas. Mereka ingin mencoba hubungan s*ks namun tidak punya uang, akhirnya mereka kadang patungan untuk menyewa waria.

Menurutnya, mereka mendapatkan informasi tentang hubungan s*ks, rata-rata dari video p*rno yang sangat mudah di dapat dari internet. Sehingga mereka tersangsang menginginkan hubungan s*ks tersebut.

Ketika melakukannya dengan waria mereka berfantasi seolah-olah sedang berhubungan s*ks dengan perempuan idamannya. Setelah melakukannya satu kali dengan waria akhirnya mereka ketagihan (menjadi pelanggan).

“Kecanduan tersebut mereka melakukannya ke anak kecil di bawah usia mereka. Selain itu, ada juga WTS berusia tua yang mempunyai pelanggan anak sekolah,” ujarnya.

Menurutnya, maraknya prilaku LGBT di kalangan pelajar Majalengka membuat orang tua makin khawatir.  Agar tidak makin meluas, butuh kerjasama seluruh pihak untuk menanganinya. Apalagi, prilaku LGBT dekat dengan penyakit HIV/AIDS.

"Menanganinya, butuh kerjasama dari semua pihak.Pihak yang sangat diharapkan secepatnya bergerak yakni, Komisi Penanggulangan AIDS, Dinas Kesehatan, Puskesmas, masyarakat, serta LSM," ujarnya.

Dijelaskan Indra, Dinas Kesehatan disini berperan sebagai unsur layanan yang melakukan tes HIV, konseler, edukasi, dan perawatan  dukungan dan pengobatan (PDP). Sementara untuk PDP HIV/AIDS ditangani klinik Akasia RSUD Majalengka.

“Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Majalengka jumlah orang yang terkena HIV/AIDS ada 274 orang. Data tersebut diambil dari tahun 2012 hingga 25 Desember 2017. Sementara yang meninggal sebanyak 45 orang,” ungkap Indra, Kamis (8/2).

Berdasarkan data tersebut, kata dia, penderita HIV/AIDS sebanyak 21,5 persen sebagai pelanggan, 20,1 persen sebagai ibu rumah tangga, dan 19,3 persen sebagai wanita penjaja s*ks.

“Dari tahun ke tahun jumlah orang yang terkena HIV/AIDS di Majalengka mengalami peningkatan. Walaupun pihak Dinas Kesehatan dan pihak lainnya sudah berusaha mencari penderita HIV/AIDS. Namun, mungkin saja masih banyak penderita HIV/AIDS yang belum terdata untuk diberikan pengobatan,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, penyumbang terbesar dalam penyebaran HIV/AIDS, disebabkan oleh s*ks bebas dan narkotika suntik. Mengenai kasus laki-laki s*ks laki-laki (LSL) saat ini pihaknya masih mengkaji lebih dalam lagi.

“Namun, LSL ini sangat beresiko terkena HIV/AIDS. Dari jumlah  274 orang penderita HIV/AIDS di Majalengka, 15,3 persen merupakan gay,” tandasnya.(hsn)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Pelajar SMP Ketagihan Begituan, Rela Patungan Sewa Waria "

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...