Puting Beliung di Laut Cirebon, Rumah dan Reklame Roboh

LEMAHWUNGKUK -  Rabu (29/11) sore kemarin, warga di Kota Cirebon diramaikan oleh menyebarnya video dan foto penampakan angin puting beliung di laut lepas Kejawanan, Kelurahan Pegambiran Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Dengan cepat, foto serta video puting beliung itu viral di berbagai media sosial.
puting beliung hantam cirebon
Puting beliung di laut lepas Kejawanan. Foto: Ist./Rakyat  Cirebon
Puting beliung di laut lepas Kejawanan tersebut bahkan dampaknya dirasakan warga di sekitar pintu tol Kanci, dimana sebagian rumah warga dan baliho di pinggir jalan raya Pantura roboh diterjang puting beliung tersebut. 

Dari informasi yang berhasil dihimpun wartawan koran ini, menyebutkan bahwa puting beliung terjadi mulai pukul 15.00 dan terjadi sekitar 15 menit. Dan dalam waktu singkat, angin berhasil menerjang sejumlah bangunan dan reklame di daerah Kanci dan Mundu. 

Saat dikonfirmasi, prakirawan cuaca pada Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Jatiwangi Ahmad Faa Iziyn membenarkan bahwa di daerah laut lepas Cirebon dan sekitarnya telah terjadi fenomena puting beliung di beberapa titik. 

"Memang benar, angin yang terjadi pada sore hari tadi itu adalah angin puting beliung, dan terjadi di beberapa titik," ungkap Faa Iziyn saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon. 
Lebih lanjut, Faa Iziyn menuturkan bahwa angin puting beliung merupakan dampak dari adanya awan Cumulonimbus (CB) yang menumpuk di laut Cirebon, dimana awan jenis tersebut biasa tumbuh selama periode musim hujan.

Namun demikian, ditandaskan Faa Iziyn tidak semua pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) ini berpotensi terjadinya puting beliung. Pasalnya, terjadinya fenomena angin kencang yang berputar tersebut tidak dapat diprediksi karena selalu datang secara tiba-tiba. 

“Tidak bisa diprediksi, biasanya siang dan sore hari saat pancaroba dan hanya terjadi selama 5 sampai 10 menit pada area skala sangat lokal, pusarannya itu menyerupai belalai gajah,” kata Faa Iziyn.

Menurut teori, masih dikatakan Faa Iziyn bahwa puting beliung terjadi disebabkan oleh udara panas dan dingin bertemu bertemu dalam satu tumpukan awan, sehingga saling bentrok dan terbentuklah putaran puting beliung. 

"Kalau didarat tentu semua akan roboh, tapi kalau angin puting beliungnya terjadi di laut seperti tadi, air laut serta ikan bisa tersedot dalam pusaran," kata Ahmad. 

Cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini berimbas langsung kepada para nelayan di Kota Cirebon. Mereka harus menyiasati waktu untuk melaut, guna mencari tangkapan ikan seperti biasanya. Saat ada tanda angin akan berhembus kencang, para nelayan tidak melaut.

"Tetap kita berangkat melaut. Tapi mencuri waktu, saat cuaca normal kita berangkat.‎ Tapi kalau mau ada angin kencang‎, kita tidak berangkat," ungkap seorang nelayan asal Samadikun, Miskad, ditemui di kawasan Kesenden‎, Rabu (29/11).

atap rumah warga hancur dihantam puting beliung
Atap rumah warga hancur dihantam puting beliung. Foto: Zezen/Rakyat Cirebon
Bahkan, Miskad mengaku, ia dan nelayan lainnya sudah bisa memprediksi sebelum angin kencang berhembus, termasuk akan adanya angin puting beliung kemarin. Naluri sebagai nelayan, selalu diuji kala musim seperti ini. "Dua jam sebelum angin kencang datang, kita bisa menebak. Makanya, tidak melaut," kata dia.

Senada disampaikan Ketua Rukun Nelayan Samadikun, Sofyan.‎ Ia menyampaikan, hampir setiap sore, angin kencang berhembus dan intensitas hujan tinggi. "‎Tiap sore anginnya kencang dan ombak bisa sampai 4 meter tingginya.‎ Selama seminggu ini cuacanya memang lagi ekstrem," ungkap Sofyan.
Karena kondisi itu, kata dia, para nelayan tidak bisa melaut terlalu jauh. Jika pada cuaca normal bisa sampai kejauhan 20 mil, tapi saat cuaca ekstrem seperti saat ini hanya 2 mil. "Kelebihannya memang kalau ombak tinggi itu ikanya lebih banyak. ‎Tapi karena tidak bisa terlalu jauh, jadi tetap saja ikan-ikan kecil," tuturnya.

‎Di sisi lain, para nelayan di Samadikun Kota Cirebon kini memiliki alat tangkap baru jenis milenium. Alat tangkap berupa arad ditukar dengan jenis baru, karena dianggap tidak ramah lingkungan. Pergantian alat tangkap diberikan melalui Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kota Cirebon.

"Sebenarnya nelayan tidak mau ganti alat tangkap. Tapi karena kata pemerintah, alat ini tidak ramah lingkungan. Padahal arad (alat tangkap tradisional) itu bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Karena murah, satu-dua orang cukup untuk melaut. Kalau alat tangkap milenium, harus lebih dari itu ABK-nya," terang Sofyan.

Alat tangkap yang baru juga sebenarnya memiliki kelebihan. "Bisa dipakai saat gelombang tinggi dan angin kencang. Dapatnya juga ikan-ikan besar, misalnya ikan talang, dan ikan-ikan besar lainnya yang punya bobot di atas 1 kg," katanya.

Durasi puting beliung hanya kurang lebih 10-15 menit, tetapi mampu meluluh lantahkan sejumlah bangunan dan pepohonan. Hal tersebut terjadi Rabu sore (29/11), saat hujan deras yang disertai angin kencang di perbatasan Kota dan Kabupaten Cirebon, yang dampaknya dirasakan warga  Kecamatan Mundu, Astanajapura, dan Pangenan, Kabupaten Cirebon. 

papan reklame di cirebon roboh
Papan reklame roboh disampu puting beliung. Foto: Zezen/Rakyat Cirebon
Di jalan pantura, tepatnya di pintu keluar tol Kanci, reklame Tirta Kencana dan Djarum yang terpasang di pertigaan jalur keluar itu, tak lagi terpasang kokoh di tempatnya.

Bahkan, nasibnya kini, telah tersungkur di pinggir jalan, lantaran terkena hantaman puting beliung. Beruntung, tak mengenai korban di jalan. Reklame tersebut segera diamankan, lantaran menyebabkan terhambatnya jalur  kendaraan.

Ratia, warga Waruduwur, Kecamatan Mundu mengaku melihat kejadian tersebut.  Saat itu  puting beliung  merobohkan berbagai sudut, mulai dari bangunan rumah, dahan pohon dan reklame.

“Padahal nggak lama, kurang lebih 10 sampai 15 menitan, tapi  ini (papan reklame, red) langsung roboh, dan ini genteng warung juga, belum lagi dahan-dahan pohon di pinggir jalan sebelah Selatan,” jelasnya ke Rakcer, Rabu (29/11).

Kejadian ini langsung menjadi perhatian pengguna jalan usai robohnya reklame yang berada di dekat lampu merah itu. Hal itu membuat aparat kepolisian wilayah Astanajapura langsung sigap mengamankan jalan.

Sementara, di Desa Astanamukti, Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon, dua bangunan rumah gentengnya habis tertiup angin puting beliung. Padahal, saat terjadinya hantaman puting beliung itu, penghuni rumah sedang berada di dalam, beruntung tidak ada korban.

“Tadi terjadi sekitar pukul 15:30 menit, waktunya kurang lebih kisaran 10 menitan, anginnya muter, dan nerjang genteng, otomatis jebol semua, padahal kami sedang berada dalam rumah, anak-anak sedang makan, dan saya sedang istirahat, sempat terkena asbes dari atap rumah,” ucap Sumai, pemilik rumah yang lokasinya berada di Dusun 1 Blok Posong RW/RT 01/04 Desa Astanamukti itu.

Menyadari adanya bahaya, dirinya langsung keluar rumah dan menyelamatkan keluarganya. Bahkan karena panik, saat keluar rumah tak sempat memakai baju, hanya memakai celana kolor.

Menurutnya, akibat amukan puting beliung itu, total kerugian ditaksirkan mencapai puluhan juta rupiah. Pasalnya, bukan hanya bangunan miliknya saja yang terkena dampak amukan itu, melainkan satu tetangganya pun sama genteng rumahnya hancur dan berserakan di tanah. “Kan ada warung dan rumah, kerugiannya ditaksirkan mencapai Rp50 jutaan,” pungkasnya. (sep/jri/zen)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Puting Beliung di Laut Cirebon, Rumah dan Reklame Roboh "

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...