Cegah Efek Negatif Bandarudara!

Serap 1,2 Juta Tenaga Kerja, Persaingan Makin Ketat

MAJALENGKA  – Pembangunan Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) di kecamatan Kertajati, mau tidak mau akan menimbulkan dampak bagi masyarakat Majalengka. Diyakini, hadirnya BIJB akan memberikan beberapa perubahan bagi masyarakat setempat. 
pemkab majalengka diminta persiapkan sebelum bijb beroperasi
Menhub RI Budi Karya Sumadi (kanan) disambut Wabup Majalengka Karna Sobahi ketika meninjau lokasi proyek BIJB belum lama ini. Foto: Hasanudin/Rakyat Cirebon
Pengamat Kebijakan Publik Majalengka, DR H Diding Bajuri MSi mengatakan, dampak dari hadirnya proyek tersebut, baik dampak positif maupun dampak negatifnya, harus disikapi oleh semua pihak.

Menurutnya, dampak positif yang akan dirasakan oleh masyarakat akan menimbulkan multiplayer efek. Salah satunya, terbukanya lapangan pekerjaan mulai dari sektor perdagangan, perhotelan, industri, pariwisata, transportasi dan perdagangan. Terbukanya lapangan pekerjaan tersebut, berkonsekwensi pada semakin kompetitifnya persaingan bagi masyarakat.

“Bagi mereka yang bisa memasuki ruang-ruang tadi hanyalah mereka yang bisa memiliki nilai-nilai kompetensi yang menunjang. Baik dari aspek pendidikan maupun skil-skil lain yang menunjang,” ujar Diding ketika dikonfirmasi Rakyat Majalengka, Rabu (29/11).

Sedangkan dampak negatifnya, kata dia, di Majalengka akan muncul istilah “Bonus Kependudukan”. Dimana penduduk di Majalengka akan mengalami penambahan jumlah penduduk yang diakibatkan oleh migrasi penduduk. Yakni, orang-orang yang mencari pekerjaan akibat dari banyaknya sektor-sektor lapangan pekerjaan yang dibutuhkan.

Dengan sendirinya, lanjut Diding, akan muncul perbedaan kultur, yang didalamnya tidak bisa dihindari akan menimbulkan gesekan ideologi, politik, sosial, budaya, ekonomi, bahkan agama. Meskipun, pengaruhnya ada  yang signifikan ada yang tidak signifikan.

“Perubahan itu ada tiga hal. Pertama, ada yang direncanakan. Kedua alami, dan yang ketiga adalah perubahan yang disebabkan oleh people power. Pembangunan BIJB ini merupakan perubahan yang direncanakan. Artinya, pemerintah daerah harus mengeluarkan kebijakan yang efektif mulai dari kesiapan SDM dan sosial engineering di masyarakat,” tandasnya.

Diding menjelaskan, pemerintah kabupaten Majalengka harus serius bergandengan tangan dengan pihak swasta  untuk melakukan pelatihan vokasional dan terapan agar nanti ketika BIJB beroperasi, SDM di Majalengka sudah siap.

Tidak hanya itu, kata dia, Pemkab Majalengka juga harus segera mungkin mengeluarkan beberapa kebijakan yang efektif mengingat BIJB akan dioperasikan pada pertengahan 2018. Kebijakan tersebut, salah satunya bisa berupa perda kependudukan untuk mencegah beberapa efek yang ditimbulkan dengan banyaknya penduduk yang akan datang ke Majalengka.

“Pemkab harus punya bargaining power. Misalnya, dengan mewajibkan berapa persen SDM BIJB diisi oleh putra daerah. Namun, pemkab juga harus secara simultan mempersiapkan SDM. Terpenting, perlu ada sinkronisasi aspek kebijakan antara pemkab, pemprov dengan pemerintah pusat. Sehingga nantinya timbul keterkaitan pusatnya daerah dan daerahnya pusat,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Majalengka, DR H Karna Sobahi MMPd mengatakan, tujuan dibangunnya BIJB yang didalamnya mencakup Kertajati Aerocity. Berdasarkan Perda Provinsi Jawa Barat nomor 13 tahun 2010, yaitu mendorong pengembangan wilayah pembangunan Ciayumajakuning. 

“Juga, meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional berbasis potensi daerah. Meningkatkan daya saing global Jawa Barat dalam rangka mendorong percepatan pertumbuhan investasi. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di bidang trasnportasi udara. Meningkatkan investasi, industri, perdagangan, pariwisata, permukiman dan perluasan lapangan kerja,” ujar Karna.

Menurutnya, secara lebih makro, BIJB diharapkan dapat mendukung proses pergerakan dan memudahkan pergerakan di Jawa Barat. Khususnya, di Majalengka melalui udara serta mampu mendukung proses pertumbuhan ekonomi Jawa Barat melalui peningkatan investasi di Kertajati Aerocity.

Ia menilai, ada bebrapa dampak terhadap Ekonomi. Diantaranya, mendorong tumbuhnya sektor perdagangan, menaikkan harga lahan, dan manambah nilai PDRB pada sektor jasa konstruksi. 

Selain itu, kata Karna, dalam rencana pengembangan BIJB dan Aerocity Kertajati nantinya akan ada peruntukan lahan untuk industri, bisnis, komersil, real estate dan pariwisata sebagai pendorong adanya lapangan pekerjaan dan pengembangan wilayah.

Terlebih, dalam rencana pembangunan Pemprov Jawa Barat kedepan, Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka akan menjadi salah satu kawasan metropolitan di masa mendatang. Nantinya, Kadipaten akan dijadikan  lokasi pembangunan di Jawa Barat bagian timur.

"Kadipaten mempunyai lokasi cukup strategis. Berjarak kurang lebih 15 kilometer dari BIJB Kertajati. Dan itu sangat memungkinkan pengembangan ke depannya," ungkap Karna, disela acara Festival KIM di Jatitujuh, Selasa (28/11).

Dia menambahkan, Kadipaten juga sebagai daerah penghubung antara Bandung Raya dan Cirebon Raya. Dengan strategisnya lokasi itu tentunya akan menumbuhkan perekonomian dan daya beli masyarakat di sekitar tersebut.  

Sementara, untuk wilayah Selatan Majalengka yang kondisi daerahnya berbukit–bukit dan sejuk, akan dijadikan kawasan pengembangan pariwista, pemukiman ekslusif, pembuatan hotel dan lainnya. 

Apalagi, urai Karna, pembangunan bandara Pemkab Majalengka telah berencana mendesain dan mem-plot kawasan–kawasan di Majalengka yang bakal diprioritaskan pembangunan seperti kawasan industri, pariwisata, dan pusat perkonomian. 

"Mega proyek bandara rencanannya diintegrasikan dengan konsep Aetropolis yang cakupanya dengan radius 60 KM2. Menurut perputaran jarum jam dan diperkirakan akan menyerap sekitar 1,2 tenaga kerja," pungkasnya.(hsn)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Cegah Efek Negatif Bandarudara! "

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...