Gas Melon Langka, Pemkab Tetapkan HET Rp16 Ribu

SUMBER - Bagi pedagang warungan gas melon amat dibutuhkan. Hanya saja, keberadaannya saat ini tidak selalu ada. Pasalnya, gas melon 3 Kg yang dijadikan sebagai bahan bakar utama seringkali habis sehingga membuat pedagang sering kewalahan. 
pedagang di cirebon kesulitan cari gas melon
Surat bupati Cirebon yang menetapkan HET gas melon. Foto: Zezez/Rakyat Cirebon
Belum lagi dari harga yang diperjual belikan di pasaran, meskipun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon telah mengintruksikan untuk dijual di harga Rp16 ribu, tetapi dilapangkan tetap saja banyak yang menjual lebih mahal dari harga yang telah ditetapkan. Bahkan ada yang sampai menjual 22 ribu per tabung.

Atas dasar itulah, diakui Maemunah pemilik warung makanan di Astanajapura dirinya seringkali tutup warung saat tidak kebagian gas. 

"Selain karena modal, warung saya sering libur saat ngga ke bagian gas, karena kehabisan," ucapnya ke Rakyat Cirebon, Senin (2/10).

Ia mengaku karena sudah menjadi kebutuhan, meskipun harus membeli dengan harga mahal tetap ia lakukan. Karena, dengan gas itulah satu-satunya bahan bakar yang bisa membuat usahanya tetap jalan. "Sama saja, kalau pakai BBM juga harganya sudah naik, mending kalau ada,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Cirebon Deni Agustin mengimbau kepada masyarakat untuk membeli Gas elpiji 3 Kg di pangkalan yang sudah ada, dengan harga Rp16.000 per tabungnya.

Karena Deni menilai, harga gas elpiji 3 kg cukup tinggi dijual diluar pangkalan, sehingga alangkah baiknya masyarakat langsung membelinya di pangkalan untuk menghindari pengeluaran berlebihan hanya untuk membeli gas.

Pemerintah Daerah sudah mengeluarkan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) melalui surat keputusan Bupati Cirebon yaitu ditetapkan sebesar Rp16.000 rupiah per tabungnya.

Namun kata Deni, HET hanya diberlakukan ditingkat pangkalan saja, tidak ditingkat pengecer yang bisa menjual diatas Rp16.000 per tabungnya. Oleh karena itu, Deni menganjurkan masyarakat untuk membeli di pangkalan agar bisa mendapat harga sesuai dengan HET.

"Jangan beli dipengecer, karena kalau dipengecer ada ongkos angkut dan sebagainya maka harganya akan lebih dari HET," jelasnya saat ditemui Rakyat Cirebon akhir pekan lalu.

Lebih lanjut Deni juga menjelaskan, meskipun harga gas melon diluar pangkalan lebih mahal dari pada harga yang sudah ditetapkan, dirinya tetap mengimbau agar harga tidak lebih dari Rp20.000 per tabungnya.

Sementara, Nana ADM PT Merindukan Diri mengaku bahwa pesediaan gas 3 KG masih aman. Begitupun dengan harga yang diperjualbelikannya, ia mengaku masih mengikuti intruksi dari pemerintah. Karena tiga bulan sebelumnya terang dia, pihaknya telah mendapatkan SK bupati soal aturan harga eceran tertinggi (HET) untuk gas.

“Harga pangkalan sesuai dengan intruksi dari pemerintah, karena sudah dari 3 bulan lalu kita dapatkan itu,”ucapnya.

Meskipun ia sebagai agen, tetapi pihaknya mengaku tetap menjual satuan untuk warga sekitar, bahkan ada yang membeli dua sampai 5 tabung. Hanya saja, ketika telah ada tembusan bahwa akan terjadi kelangkaan, kini pihaknya suydah membatasi pembelian eceran. Semua itu dilakukan untuk keamanan.  

“Untuk warga kita batasi hanya 2 saja dengan harga sesuai anjuran pemerintah, yakni Rp16 ribu pertabungnya dan untuk yang eceran itu kita hanya menjual untuk warga sekitar saja, karena kebetulan kita juga sudah mengenal mereka,” kata dia. (zen/dym)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Gas Melon Langka, Pemkab Tetapkan HET Rp16 Ribu"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...