Pegawai dan Dosen Unswagati Kembali Ngamuk, Gembok Kantor Yayasan

KESAMBI – Internal Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon makin membara. Setelah melakukan aksi demonstrasi besar-besaran pada Senin (25/6), kemarin mereka melakukan aksi serupa. 
pegawai dan dosen unswagati demo yayasan swadaya gunungjati
Dosen dan pegawai Unswagati gembok kantor YPSGJ. Foto: Fajri/Rakyat Cirebon
Kali ini, para pegawai dan dosen melakukan longmarch dari kampus I di Jalan Pemuda menuju kantor Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati (YPSGJ) di kompleks Bima.

Amarah ratusan pegawai dan dosen Unswagati tak terbendung. Selain orasi dan membentangkan spanduk bertuliskan aspirasinya, massa pegawai dan dosen juga kembali membakar ban bekas di halaman kantor YPSGJ. Tak hanya itu, situasi kian memanas ketika mereka menyegel kantor YPSGJ dengan memasang gembok di bagian pintu.

Massa juga nyaris bertindak anarkis ketika berusaha meminta beberapa orang yang ada di dalam ruangan di komplek kantor YPSGJ untuk keluar. Beberapa orang di antara mereka menggedor-gedor pintu seraya berteriak. Kantor YPSGJ sendiri berada satu komplek dengan rumah susun mahasiswa (rusunawa) Unswagati.

“Kita kembali melakukan aksi untuk mendesak yayasan segera mengabulkan aspirasi kita, menolak wakil ketua yayasan yang berstatus PNS dan kembalikan tata kelola keuangan ke universitas, bukan di yayasan,” ungkap Koordinator Aksi, Bambang Medivit SH.

Ia menambahkan, pihaknya juga mendesak agar dilakukan audit investigasi atas semua pengelolaan keuangan sejak peralihan dari universitas ke yayasan. Mereka tak mau ada penyalahgunaan keuangan. “Kita juga meminta agar dilakukan audit investigasi atas penggunaan keuangan itu,” katanya.

Selain itu, beredar juga kabar bahwa pegawai dan dosen yang melakukan aksi demo akan dipecat. Atas hal itu, Medi tegas menolaknya. 

Demo yang dilakukan merupakan akumulasi dari kekecewaan para pegawai dan dosen atas beberapa kebijakan pihak yayasan. “Kita menyampaikan aspirasi untuk didengar dan direalisasikan. Demi kebaikan unswagati,” katanya.

Massa pendemo mulai reda saat Ketua YPSGJ, H Dadang Sukandar Kasidin didampingi Rektor Unswagati, Prof Dr H Rochanda Wiradinata MP menemui mereka. 

Di hadapan massa pendemo, Dadang menyampaikan, pihaknya sudah mengerti dan memahami aspirasi pegawai dan dosen. “Tuntutan itu akan dipenuhi. Tapi tolong, semua itu ada prosesnya. Kami akan secepatnya memproses. Supaya kita bisa guyub, bisa sinergis lagi. Kita harus menjaga lembaga ini, supaya lebih maju,” ungkap Dadang.

Mengenai adanya kabar ancaman pemecatan bagi pegawai dan dosen yang demo, Dadang menegaskan, hal itu tidak ada. Pihaknya tidak akan memecat pegawai dan dosen yang demo. 

“Tidak ada yang akan melakukan itu. Karena yang mengambil keputusan itu saya. Saya tidak akan memecat. Saya akan mendukung, kalau ini untuk membesarkan lembaga,” katanya.

Sementara, masuknya nama Prof Dr Suherli Kusmana MPd sebagai wakil ketua YPSGJ, padahal ia berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) ditengarai bentuk kecolongan dari pihak YPSG maupun rektor. 

Pasalnya, tidak ada upaya konsultasi kepada Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) mengenai status Suherli apabila masuk ke struktural yayasan.

“Awalnya saya sudah tanya kepada yang bersangkutan (Suherli, red). Kemudian yang bersangkutan mengatakan, tidak masalah (jika masuk struktur yayasan). Kami tanya juga ke rektor, katanya tidak ada masalah juga,” kata Dadang kepada sejumlah wartawan, usai menemui pendemo.

Mengenai pemindahan pengelolaan keuangan dari universitas ke yayasan, Dadang mengaku, hal itu berdasarkan kesepakatan tim bersama dan sudah disetujui pembina YPSGJ. 

Namun kalaupun pegawai dan dosen meminta dikembalikan ke universitas, pihaknya akan membahas hal itu. Termasuk soal permintaan audit investigasi. “Audit investigasi itu memang perlu dan harus. Kita lihat dalam prosesnya seperti apa,” kata dia.

Rektor Unswagati, Prof Dr H Rochanda Wiradinata MP menyampaikan, ditempatkannya Suherli di struktural YPSGJ bermula dari permintaan pihak yayasan. Saat itu pihaknya setuju dengan beberapa catatan. Diantaranya, dasar hukum yang tidak melarang seorang PNS berperan di yayasan, harus ada izin tertulis dari Kopertis, dan harus bisa menjembatani universitas dan yayasan.

“Faktanya Kopertis mempertanyakan hal itu, bahwa Pak Suherli tidak ada izin dari Kopertis, aturan juga tidak membenarkan, kemudian upaya menjembatani juga tidak dilakukan,” katanya. Ia tidak pernah berkonsultasi sebelumnya kepada Kopertis mengenai penempatan PNS ke dalam struktural yayasan.

Di sisi lain, Rochanda mengaku, aksi demo yang dilakukan pegawai dan dosen sedikit mengganggu aktivitas perkuliahan. Namun ia memastikan kegiatan perkuliahan relatif normal. “Ini (massa yang demo, red) kebetulan yang tidak ada kegiatan akademik,” katanya. Di Unswagati sendiri terdapat sekitar 500 pegawai dan dosen. 

Sementara itu, Ketua Ikatan Alumni (IKA) Unswagati, H Nasori Ibnu Affan SE MSi, Selasa (26/9) siang, menanggapi adanya aksi protes ratusan dosen dan pegawai. "Unswagati ini kampus yang besar, semestinya dikelola dengan cara yang benar sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang ada dalam tata kelolanya. Baik di tingkat yayasan, universitas, fakultas dan prodi,” ungkap Nasori.

Pihaknya menyoroti peralihan tata kelola keuangan dari universitas ke Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati (YPSG). Nasori mengatakan, YPSG bukan pendiri ataupun pemilik Unswagati.

“Bagaimana mungkin akan bisa berkembang jika pengelolaan keuangan diambilalih oleh yayasan semuanya? Ingat, yayasan di Unswagati itu bukan pendiri dan bukan pemilik. Mereka hanya diamanahi oleh sivitas akademika untuk kemaslahatan Unswagati," kata alumni Fakultas Ekonomi ini.

Setelah peristiwa gelombang demo yang dilakukan pegawai dan dosen, pihaknya meminta agar semua pihak, baik yayasan maupun rektorat benar-benar mengutamakan pelayanan kepada mahasiswa. 

Baik dalam kegiatan perkuliahan maupun administrasi dan keuangan. "Yang sudah baik hendaknya dijaga, bukan dirusak. Karena itu kami sangat mendukung langkah-langkah perbaikan untuk kemajuan Unswagati, yang sesuai dengan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku," tegasnya.

Hal senada disampaikan Sekretaris IKA Unswagati, Mastari SP MP. Ia mengajak seluruh mahasiswa dan alumni Unswagati untuk tetap mengawal secara kritis dan objektif pelaksanaan sistem tata kelola yang ada di Unswagati, agar sesuai dengan tujuannya.

"Orang-orang yang hanya membuat gaduh, mengedepankan kepentingan sendiri dan kelompoknya, jangan diberi tempat di Unswagati. Karena Unswagati ini dibangun dengan kebersamaan dan kampus ini juga milik semuanya," kata Mastari. (jri)

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Pegawai dan Dosen Unswagati Kembali Ngamuk, Gembok Kantor Yayasan"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...