Lagi Musim Apa Sekarang ?

Oleh: Ardi Rosidin Abdullah

SAAT berkomunikasi dengan rekan yang lama tidak bersua, ada pertanyaan yang biasa Saya lontarkan sekedar untuk memulai pembicaraan. Pertanyaan itu bukan bagaimana kabarnya ?, kemana saja selama ini ? atau sejenisnya yang lajim orang lain lakukan. Pertanyaan khas yang dilontarkan adalah “Lagi musim apa sekarang ?”. 
mewakafkan diri untuk kepentingan masyarakat
Ardi Rosidin Abdullah. dok. Rakyat Cirebon
Sejatinya pertanyaan ini diajukan tidak betul-betul untuk mengetahui soal musim, cuaca atau buah-buahan. Pertanyaan itu terlontar lebih karena adanya kesamaan pengalaman pada masa lalu saat satu sama lain bercerita tentang angsuran kendaraan yang belum terbayar, tagihan kartu kredit yang membengkak atau hal-hal yang terkait dengan belitan hutang yang serasa tidak mudah untuk diselesaikan. 

Bagi Kami pertanyaan tersebut pada saat-saat tertentu menjadi sangat relevan, apalagi jika dilontarkan pada tanggal-tanggal gajian karyawan. Pertanyaan itu menjadi semacam isyarat apakah Kita sudah terbebas dari kewajiban yang harus diselesaikan atau justru masih dalam kemelut yang kian membelit. Situasi seperti ini nampaknya tidak hanya menimpa kelompok pekerja pada lapisan bawah, kelompok menengah juga tidak jarang menghadapi masalah serupa.
Belakangan setelah tidak lagi berada pada institusi yang sama dengan rekan-rekan yang hampir selama beberapa tahun bergaul akrab, pertanyaan itu menjadi jarang dilontarkan. Namun demikian bukan berarti pertanyaan itu sudah dilupakan. Sesekali saat bertemu pada suatu kesempatan pertanyaan itu tetap menjadi kebiasaan yang tidak bisa hilang begitu saja. 

Bagi Saya jawaban lugas tanpa ragu yang diucapkan dengan sigap menunjukan keadaan diri atau situasi keuangan yang membaik. Beberapa hari lalu saat pertanyaan sama dilontarkan, seorang rekan tanpa ragu menjawabnya dengan kalimat “lagi banyak orang nempel photo diri mas”. Rupanya dia cukup peka dengan situasi lingkungan saat ini yang dari hari ke hari kian riuh dibanjiri banner, baligho atau photo-photo yang kadang figurnya tidak begitu dikenali masyarakat secara luas. 

Beberapa orang mahfum dengan hal ini, tetapi tidak sedikit yang gagal paham apa maksud dari pemasangan photo atau banner tersebut. Tidak jarang dalam tampilannya yang mencantumkan klaim reputasi diri sebagai yang cerdas, bersih dan tegas. 

Pada tampilan lain ada pula yang secara heroik hendak mewakafkan dirinya untuk kepentingan masyarakat, akan berjuang membangun daerah dan beragam kalimat lainnya yang sebenarnya kalau mereka mau lakukan tanpa harus ditulis pun Saya jamin tidak akan ada yang keberatan. 

Ukurannya beragam mulai dari yang gratisan dipasang di tiang listrik atau tiang telephone, ditempel di tembok ala kadarnya, dipaku pada pohon yang oleh sebagian penggiat dianggap tidak peka lingkungan hingga bentangan besar yang dipasang pada papan reklame komersial.         
Seakan tidak mau kalah dengan “kemeriahan” ini beberapa program pemerintah yang pada masa Saya kanak-kanak disosialisasikan melalui aparat pemerintah secara berjenjang, saat ini seakan menjadi kurang lengkap kalau tidak diikuti dengan bentangan spanduk, banner atau baligho yang dipasangi photo figur. 

Akhirnya bermunculanlah sosialisasi program, ucapan selamat pada hari-hari besar atau kebijakan pemerintah yang beragam, namun tetap dengan photo dari figur yang sama. Pemasangannya yang dilakukan di banyak ruang publik seakan ingin menunjukan bahwa pemerintah melalui pemimpinnya telah hadir di beragam tempat dan siap untuk melindungi serta memberikan layanan yang terbaik bagi masyarakatnya. 

Lantas apakah beragam photo yang terpajang itu cukup mewakili kehadiran seseorang di lingkungannya ? Bisa jadi jawabannya “YA” jika yang terpasang itu dilakukan atas inisiatif dan kehendak masyarakat yang secara sadar dan ikhlas, mengenal, peduli dan menghormati sang tokoh karena gagasan, tindakan dan peran aktifnya hingga memberikan pengaruh positif bagi lingkungan dan masyarakat. Namun jika yang terjadi sebaliknya, apakah jawabannya masih tetap “YA” ?

Bisa jadi ada faktor musim yang ikut menentukan jawaban menjadi “YA” atau “Tidak”. Basi-basi pertemuan Saya dengan rekan itu kian renyah saja saat suara tawa mulai berderai. “Baiklah untuk lebih memastikan jawabannya sekali lagi Saya bertanya, Lagi musim apa sekarang ?” tanya Saya sambil membiarkan sang rekan untuk mempersiapkan jawabannya. (*)  

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Lagi Musim Apa Sekarang ?"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...