Jika Jawara Tidak Ikut Pertandingan

Oleh: Ardi Rosidin Abdullah

BEBERAPA waktu belakangan ini proses penempatan ASN pada jabatan tertentu melalui lelang jabatan atau yang lajim disebut dengan open bidding tengah populer dilakukan. 
lelang jabatan harus terapkan prinsip keterbukaan
Ardi Rosidin Abdullah. dok. Rakyat Cirebon
Selain bertujuan untuk menerapkan prinsip keterbukaan, menjaring aparatur dengan integritas yang tinggi dan memiliki kemampuan di bidangnya, proses seperti ini juga terkesan mengikuti kecenderungan yang tengah populer. 

Lelang jabatan seolah-olah merupakan jawaban atau solusi jitu atas kebuntuan sistem birokrasi dalam proses pengangkatan aparaturnya untuk menempati posisi selama ini. 

Proses penjaringan seperti ini entah sungguh-sungguh atau tidak oleh beberapa kalangan diyakini sebagai mekanisme terbaik untuk menempatkan aparatur yang handal pada kedudukan yang semestinya. 

Sejatinya cara terbaik selalu dibutuhkan untuk menghasilkan keputusan yang tepat agar proses yang dilakukan tidak menjadi sia-sia.

Pada dunia hiburan saat ini juga marak penjaringan bakat melalui program siaran televisi yang kadang durasinya seperti tiada batas. 

Masing-masing stasiun televisi seolah berlomba menayangkan program pencarian bakat tersebut dengan melibatkan emosi pemirsa untuk memberikan dukungan karena pertimbangan penampilan, hubungan pertemanan atau kesamaan asal usul daerah. 

Saat acara masuk pada tahapan final, lolos tidaknya peserta pada tahap berikutnya tidak lagi bergantung pada dewan juri, tetapi pada seberapa besar dukungan pemirsa pada peserta yang ditunjukan melalui kiriman sms atau sejenisnya. 

Bakat yang disasar dari peserta bisa macam-macam mulai dari jawara pop, biduan dangdut, pesulap, penari, komedian atau beragam bakat lainnya.

Pada ajang lomba atau kejuaraan profesional gengsi acara sangat ditentukan oleh latar belakang peserta yang turut berkompetisi. Artinya semakin banyak peserta unggulan dan nama-nama besar yang terlibat dalam suatu kejuaraan, maka semakin bernilai prestasi yang dihasilkan. 

Oleh karena itu tidak aneh jika dalam suatu kompetisi penyelenggara memberlakukan aturan yang ketat bagi calon peserta yang hendak mengikuti, beberapa diantaranya seperti dalam cabang olah raga bahkan harus melalui proses pra kualifikasi untuk bisa memasuki ajang sesungguhnya. 

Sedangkan ajang seperti Miss World atau Miss Universe yang dilakukan melalui proses penjurian pesertanya harus mengikuti tahapan secara bertingkat hingga bisa tampil di kontes dunia mewakili masing-masing negara. 

Format penjurian dilakukan secara disiplin menggunakan konsep standard yang sangat formal sebagai parameter. 

Jaminan kegiatan berlangsung secara fair menjadi suatu keharusan agar kepercayaan publik terhadap ajang seperti ini tetap tinggi. 

Bahkan setelah gelar itu sendiri disandang, bisa saja otoritas penyelenggara mencabut atau membatalkan gelar jika sang pemenang dianggap tidak cukup layak untuk meneruskan gelar yang disandangnya.

Proses perencanaan yang matang, penyelenggaraan yang profesional, kapasitas juri yang mumpuni sesuai dengan keahliannya, serta dukungan dan kepercayaan publik yang tinggi terhadap penyelenggara menjadikan sebuah ajang lomba atau kejuaran kian bergengsi karena diyakini akan menghasilkan juara yang semestinya. 

Lantas apa jadinya jika sebuah ajang moto GP saat ini tidak diikuti oleh Valentino Rossi, Marc Marquez, Dani Pedroza, Andrea Davizioso atau langganan juara lainnya ? 

Apa jadinya jika kejuaraan tenis Grand Slam saat ini tanpa kehadiran Roger Federer Andy Murray, Novak Djokovic dan Rafael Nadal ? bagaimana reaksi penonton dunia jika Liga Sepak bola Spanyol tanpa kehadiran klub raksasa seperti Barcelona dan Real  Madrid ?

Sebuah ajang perlombaan selain menghdirkan kemampuan peserta yang tampil, seringkali juga disesuaikan dengan format penjurian yang telah ditetapkan konsepnya oleh penyelenggara. Bisa jadi kemampuan peserta saja tidk cukup mendongkrak seseorang menjadi juara jika tidak sesuai dengan format penjurian yang berlaku. 

Tentunya hal-hal teknis seperti ini akan menjadi concern para peserta saat mengikuti lomba agar bisa lolos dan memasuki tahap selanjutnya. 

Namun demikian apa jadinya jika ajang pencarian bakat atau sebuah kejuaraan tidak diikuti oleh para jawaranya, masih cukup banggakah peserta yang keluar sebagai pemenang untuk mengangkat pialanya ? 

Jika ada aparatur sipil negara yang memiliki keunggulan, integritas serta profesionalisme terhadap tugasnya, namun tidak cukup yakin kemampuan yang dimilikinya akan dinilai positif oleh konsep penjurian yang berlaku hingga memilih untuk tidak mengikuti kontes. 

Lantas masih cukup efektifkah solusi yang ditawarkan oleh birokrasi saat ini untuk menempatkan aparaturnya melalui proses semacam ini ? (*)                 

Dapatkan berita terkini:

0 Response to "Jika Jawara Tidak Ikut Pertandingan"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus

loading...